Peluk aku,
karena hanya itu yang membuatku tenang
Peluk aku,
lebih lama lagi
Aku tak tahan,
melihat kejamnya dunia ini Ibu,
Aku sudah terjatuh
dalam jeratan kasih yang membelenggu
mimpi hanyalah sekedar simbol
manifestasi ketakutan akan khayalan
Mimpi-mimpi itu menjadi temanku
skenario cerita menjadi hidupku
kepahitan dan akhir yang sedih menjadi tantanganku
Tapi kini, aku hanya bisa marah pada diriku sendiri
penyelasan akan kesetiaan
penyesalan akan suatu rentetan perbuatan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 April 2012
Jumat, 02 Maret 2012
Biru Muda di Kuncup Makara
Dari Jalan kampung ke jalan DKI
Mengarungi samudera ilmu di Psikologi
Kampus biru muda penyegar jiwa
Tempat altruisme tumbuh dan berkembang
Wahai pemuda,dengarkan lah
Harmoni cinta kami bagi Psikologi
UI tercinta
Kami peduli, meski sangat sederhana
Bagai air yang menyiram bunga
Agar bunga tak layu bahkan tak bernyawa
Kami peduli, meski sangat
sederhana
Menghibur jiwa yang terluka
Meski mungkin aku juga sama
Kita seperti awan,
Yang mungkin akan tersapu angin kebahagiaan
Kita laksana pantai,
Tenang ketika ombak kehidupan tak datang
Kita bukan dukun yang memberi
mantra,
Bukan juga pujangga yang
memberi cinta
Tapi aku tahu kamu merasa
Kehadiranku membawa bahagia
Minggu, 26 Februari 2012
-Sahabat-
Sahabat,
Dia bukan barang yang bisa di tukar
Bukan pula uang yang bisa dibelanjakan
Sahabat laksana air di lautan,
tiada akan pernah lenyap meski
pasang surut setiap hari
Sahabat laksana udara di bumi
selalu ada meski kita tak melihatnya
Teruntukmu sahabatku,
yang mungkin tak selalu ku sebut namamu
Teruntukmu sahabatku,
Lilin kecil yang menerangi jiwaku
Engkau bukan hitam seperti tanda berduka,
Bukan pula putih sebagai tanda kesucian
Engkau laksana sudut 360 derajat
akan selalu kembali setelah melewati hari
Kamu melengkapi langkahku sahabat,
Terima kasihku untukmu,
Sahabat-sahabat terbaikku
Dia bukan barang yang bisa di tukar
Bukan pula uang yang bisa dibelanjakan
Sahabat laksana air di lautan,
tiada akan pernah lenyap meski
pasang surut setiap hari
Sahabat laksana udara di bumi
selalu ada meski kita tak melihatnya
Teruntukmu sahabatku,
yang mungkin tak selalu ku sebut namamu
Teruntukmu sahabatku,
Lilin kecil yang menerangi jiwaku
Engkau bukan hitam seperti tanda berduka,
Bukan pula putih sebagai tanda kesucian
Engkau laksana sudut 360 derajat
akan selalu kembali setelah melewati hari
Kamu melengkapi langkahku sahabat,
Terima kasihku untukmu,
Sahabat-sahabat terbaikku
Langganan:
Postingan (Atom)

