Selasa, 21 Januari 2014

Travel Report of Japan East-Asia Network of Exchange for Students and Youths (JENESYS) 2.0 #1


Travel Report of Japan East-Asia Network of Exchange for Students and Youths
(JENESYS) 2.0
ASEAN Economic Community
Fatmawati Indah Purnamasari, Faculty of Psychology,  Universitas Indonesia
For Japanese Embassy in Indonesia


First of all I would like to express my sincere gratitude for Japan Embassy in Indonesia, especially for Mr. Kemas, Mr. Takeyama, and Mr. Kawai who’d gave me an opportunity to visit Japan. I’m proud to be Indonesia Delegates for JENESYS 2.0 which held in Japan, March 31st until April 7th 2013. I decided to join this program because I want to learn more from Japan to prepare myself and then contribute to my community, my university, and my beloved country, Indonesia.
If we look back at our past and present bilateral relations, we can notice continuous progress from early stages until today. We know that Indonesia is a large country with its populations is the biggest one in ASEAN. It’s culturally and geographically very divers and has a lot of natural beauty, and Indonesia also has a series of positive economic characteristics. And we know that Japan is a country with high technology, a lot of cultural assets, natural beauty too, and solid work ethic. The cooperation between Indonesia and Japan continue to be vital for both of our countries. I have also found out that Indonesia will face AEC 2015 and as a youth from Indonesia, I think that it’s a great chance to learn from development of technology in Japan so Indonesia can improve its trading. 

PRE-DEPARTURE PREPARATION
As a Participant in JENESYS 2.0, I received an email contain Participants’ Handbook for AEC Youth Network. That book helped me so much to prepare all things that I was needed during that program. On March 30th 2013, I and other delegates from Indonesia came to the Japanese Embassy’s Office to have an orientation of JENESYS Program. After that, we had our lunch and took picture together.




Having orientation of JENESYS 2.0, we went to look around some tourism places in Jakarta. We go through Sunda Kelapa area and then moved to airport to have dinner. In the Soekarno-Hatta airport, I took pictures with other delegates from Indonesia. 

INDONESIA DELEGATES:
From left side: Rinov Tri Utomo, Risang Sanindyo Omar, Malinda Damayanti, Fatmawati Indah Purnamasari, Devina Sofiyanti, Agustina R.P. Andam DewiElok Pawening Maharani, Chiquita Limer,  dan Sumadianto Eka Putra.

March 31st, 2013 (First Day in Japan)


















Having arrived at Narita International Airport, we picked up by travel agency and some people whose came from JICE. We walked together to put our luggage in baggage car. After that, we went to the bus together with delegates came from Cambodia, Thailand, and Malaysia. On the way we moved to Tokyo International Center, we really enjoyed the cherry blossom. That was my first time to see Sakura. It was so beautiful. I took many pictures in front of TIC. After that, we went for sightseeing. When I and Andam wanted to take some picture together, Japanese came closer to us and offered some help. That was my first daily finding about Japanese culture. They’re very kind to help others. On my first day in Japan, I didn't found traffic jam. It seemed "a little bit" different than in Jakarta


Around 7 o’clock, Ken (Elok’s friend who came from Kyoto), accompanied us to go to Tokyo Tower. He showed us the station near our hotel. On that time, we were left behind Ken, because he was busy chit chat with Elok. Actually it’s not their fault, because I and my friends walked very slowly. Look at this picture. Malinda took this picture when we were counting money to buy subway ticket.


Because we must wait for the next subway, we took a photo first.

From left side: Chiquita Limer, Rinov Tri Utomo, Sumadianto Eka Putra, Agustina R.P. Andam Dewi, Fatmawati Indah Purnamasari (Fatma), Hui (Malaysia delegate), Devina
Photo by Risang Sanindyo Omar

But finally, we arrived at Tokyo Tower


April 1st, 2013 (Second Day)
I went to Ministry of Foreign Affairs and I also asked a question about Tax Policy and City Management in Japan.
This photo I copied from JENESYS 2.0 fan pages on facebook.

After having opening ceremony in MOFA or in PM Abe Office, we moved to Asakusa to visit Senso-ji Temple. We met many tourism there. The temple was clean enough and had many unique side that can make many tourist interested.



Having visit Senso-ji temple, we moved to Akihabara






The last photo showed us a smoking area located near Akihabara shopping center.
TO BE CONTINUE. . . .





Rabu, 18 Desember 2013

Awas! Aku Sedang Jatuh Cinta

Hampa bagai ruang kosong tanpanya
Lemah bak tumbuhan layu tanpa perciknya
Pun akan Rapuh lapuk tanpa kekuatan darinya

Aku begitu mencintainya!
Benar-benar tak rela hidup tanpa kasihnya
Akan mati jika tak bisa memilikinya

Aku benar-benar mencintainya!
Dengan sepenuh hati ku serahkan ruang kosong dalam hatiku
Tuk dipenuhi rasa dan harap padanya


Kebersamaan kami tak cukup lama,
Kadang aku menyadarinya, tapi tak bertahan lama
Sering aku melupakannya dan bersikap biasa saja

Aku sungguh-sungguh mencintainya,
Yang kepadanya ku rela menanggung cobaan
Dan kepadanya, tempat berharap setiap manusia.

Ya, aku tak cukup lama mengenalnya
Seusia dengan lahirku, sejak 21 tahun lalu
Kepadanya, alasan darahku mengalir,
Dengan kehendaknya pun jantungku berdetak
Karena dia ada, dalam tarikan nafasku

Izinkan aku mencitainya, dan terus berharap padanya.



Ralat: *ganti semua "nya" dengan "-Nya" (:

Rabu, 13 November 2013

Ketika Pertanyaan Mengetuk Relung Hati

Empat bulan yang lalu, saya masih mengira-ngira kemana mimpi saya akan dibawa. Tiga bulan lalu, saya mulai mencintai hal ini sebagai kebiasaan setelah selesai berpuasa seharian. Dua bulan lalu, saya mulai membangun mimpi untuk mempertahankan hasrat saya disini. Akan tetapi, satu bulan yang lalu, saya mulai dibingungkan dengan semua ini. Perubahan demi perubahan, pergantian dan pergantian, serta kehilangan pun silih berganti.

Amat disayangkan memang, orang-orang yang awalnya merencanakan ini, kini harus pergi karena merasa lelah bermimpi disini. Tuntutan demi tuntutan tugas kini terasa berat. Seakan berada dipundak-pundak pemimpinya saja. Lantas apa masalah terberat dalam diri? Sampai tak habis pikir untuk terus berkorban sementara yang lain hanya memperjuangkan produktivitas pribadi?


Sabtu, 02 November 2013

Permohonan Maaf

Jika mengatakan bahwa ini ujian terberat, maka ini mungkin akan menjadi ujian yang lebih besar dari yang sebenarnya terjadi. Ini perasaan yang sama, rasa yang sama ketika saya terjatuh di pelukan Tuhan yang selalu sama. Dia menciptakan cinta dengan cepat diantara orang-orang dalam hidup saya, tapi begitu cepat pula Dia membalikkan semua itu. Dia datangkan banyak, dan Dia jauhkan banyak pula orang-orang terdekat saya. Dia membuat saya dicinta, dan dibenci pula oleh orang yang sama. Dia selalu memiliki cara untuk membawa saya menghela nafas dan memejamkan mata sejenak

Saya masih berpijak di bumi yang sama. Tempat dimana saya dilahirkan dan kelak nanti akan dikebumikan. Berbicara tentang kematian, saya amat takut ketika membayangkan jiwa saya diangkat dan dibebaskan dari beban yang ada dalam diri saya. Saya bisa membayangkan betapa beratnya melepas pikiran, perasaan, dan semua harapan dibalik pilihan menuju keabadian. Setiap hari saya menolak untuk menerima kematian karena takut tisak akan memiliki teman setia dalam keabadian.

Dia benar, Dia memang benar. Malam ini saya berada dikeramaian, akan tetapi diri saya merasa sendiri. Merasa dimiliki jiwa yang tidak bisa mengatur detak jantung yang semakin berdetak cepat. Saya merapuh mengikuti pikiran yang kalut karena lelah mengikuti arus kehidupan. Terseret dari hulu dan belum tahu akan berhenti dimana.

Beberapa saat lalu, saya meluangkan waktu untuk menghapuskan segala dosa kepada orang terdekat saya. Orang tua, sanak keluarga, teman menempuh ilmu di Fakultas, teman kosan, dan beberapa orang yang menyadari keterkaitan saya dengan perasaan seperti ini. Kali ini, saya ingin sekali lagi menghapuskan dosa dengan meminta maaf kepada setiap pembaca yang mungkin telah dirugikan karena waktu dan pikiran yang telah dicurahkan untuk membaca tulisan berikut ini.


Tulisan ini terinspirasi dari beberapa teman di yang telah membuat saya tersenyum bangga dan menangis pilu karena kesalahan yang saya buat. Mungkin terlalu banyak perkataan atau perbuatan yang membuat teman-teman sakit hati. Semoga kesediaan teman-teman untuk memaafkan saya, dibalas dengan kemudahan yang berlipat ganda oleh Dia yang selalu mencintai kita.

Selasa, 29 Oktober 2013

Berbobot Lebih dari 24 sks :P

Saya baru saja merencanakan hal gila di saat saya memasuki tahap perkembangan dewasa muda. Mengambil beban kerja yang bobotnya lebih dari 24 sks. Hehehe. Maaf ya kalo nanti kesannya curcol.
Harapan telah saya curahkan untuk hal hal berbau kolaborasi ini. Tekad untuk melihat Indonesia yang lebih baik (dalam segala bidang) menjadi alasan susahnya tertidur saat sudah memikirkan hal yang satu ini. Saya tidak pernah se"ngoyo" ini, bahkan demi uang. Selama 3 tahun saya menjadi anak rantau, bekerja merupakan suatu hal yang sering saya lakukan. Dari berjualan donat dan gorengan keliling kamar di Asrama UI, hingga tender proyek ratusan juta di tempat kerja. Kedua hal tersebut saya lakukan dengan santai dan tidak pernah berpikir panjang dalam setiap pengerjaannya. Ketika saya malas, saya pun cuti dari semua rutinitas yang ada. Tidak peduli siapa yang akan rugi jika saya tidak memenuhi tanggung jawab saya. Ibarat kata, saya besok mati karena kelaparan pun tak apa.
Sampai akhirnya sekarang saya rela begadang setiap ada waktu. Tidak sesekali, bahkan tidak tahu lagi harus menghitung menggunakan jari yang mana lagi. Mata saya jarang terpejam di malam hari karena kenikmatan berdiskusi dan memperjelas mimpi yang aneh ini.
KOLABORASI. Satu kata yang membuat hidup saya tidak tenang akhir-akhir ini. Panca indra saya masih normal, masih bisa menangkap stimulus-stimulus yang ada di luar diri saya. Masih bisa melihat, mendengar, mencium, meraba, dan mengecap apa yang disajikan. Akan tetapi, saya hanya sekedar memberikan perhatian untuk sepersekian detik, sampai akhirnya saya kembali memikirkan kata sakral tersebut.
Jemari saya bisa menari-nari diatas keyboard laptop, akan tetapi pikiran saya entah melayang jauh kemana. Menurut orang lain, mungkin hal ini lebay atau mengandung majas hiperbola. Akan tetapi, memang demikian adanya :p.
Satu hal yang membuat saya semangat lagi yaitu sugesti yang saya berikan pada diri saya sendiri.
"Saya menjalankan ini bukan untuk materi, bukan pula untuk prestasi. Hanya saja, saya tidak mau Indonesia menunggu terlalu lama untuk bisa jaya kembali"
Ketika kita menunda 1 menit untuk mengerjakan mimpi ini, maka Indonesia yang lebih baik akan tertunda 1 tahun dari waktu yang diimpikan.

Selasa, 03 September 2013

Memiliki Jiwa yang Lama

:

pelita tak selamanya menyala

kadang badai datang 

bagai tiupan angin pada sang lilin.

malam ini pun mulai bercerita

antara duka dan kecewa pada tirani

terlebur dan mencabik benih harap ku



lantas apa yang masih terpikir

bias air tuba membentengi diri

renungan asa kini tertimbun luka 

tulisan cita pun jadi tak berharga



sesekali coba menderita

miliki jiwa yang telah terlupa lama

sedikit sakit laksana mencekik mimpi

mengurung imaji dalam untaian isi hati



mana bisa mereka mengerti

jikalau niat sudah tercampur urusan pribadi.

kini diri sudah kembali menjadi jiwa,

menyatu lekat bersama nafas yang terikat

meski hujan turun di malam hari,

mentari pun tetap bersinar esok hari.



Dibalik tirai biru aku menjerit

mengintip dunia yang lama menutupiku

cobalah tanyakan padaku

kisah apa yang terukir di bukuku



"perkataan raga pada jiwa yang menyala"

terima kasih telah menjadi jiwaku selama ini. mungkin aku hanya seonggok daging bertulang yang tak berarti. Ku miliki kamu, dan kau pun begitu. Cukup lah kita berdua, dan Tuhan menjadi saksinya





Senin, 10 Juni 2013

Jangan Mengeja Apa yang Sudah Tertulis

Sekejap ku melihat,
Seorang lelaki dengan Helm merah, 
Motor merah, dan berbaju abu-abu
Tinggi badan mungkin sama layaknya kamu
Berdiri di depan atm Mandiri,
dengan jalan yang sama,
Tetiba teringat teman 1 atau 2 tahun yang lalu
Yang kini sedang bersinar terang

Tatkala rindu menjadi saksi pilu,
Kenangan suaramu berbisik pelan memanggilku
Disini, di ujung gang kecil iini,
Tempat kita mengayuh pertemanan
Menyusuri setiap memori yang berlalu
Membuatku tertatih dengan ukiran penyesalan

Jikalau ada duri kutancapkan di relung hatimu
Maka ampunilah aku.
Betapa lelah aku menapaki hari ini
Sejenak bersandar di sudut kamar,
Teringat kembali akan perjalanan itu.

Lembayung di ujung Palmerah,
Terlihat ketika melaju di atas dua roda,
Kau kawanku dan romansaku
Rekan pertama dimana aku merasa sama
A place where I come back after had a long journey
Tempatku melepas beban pundakku

Lantas haruskah memulai dari “Nol” lagi,
Untuk kedua kalinya, sementara kurasa sama
Aku kini menyadari,
Tak ada sedikitpun kenangan yang terbuang sia-sia
Akan ku pungut setiap memori itu,
Kusimpan rapi dalam album memori,
Tentang teman, yang berakhir dengan melodi.

Ku panjatkan doaku pada-Nya
agar Dia menjagamu dalam limpahan rahmat,
 Dan agar Dia mengasihimu dalam limpahan sayang
Serta agar Dia mengenangmu dalam limpahan kenangan indah
*Ditulis disini, di tengah gang kecil itu*




Translate