Amat disayangkan memang, orang-orang yang awalnya merencanakan ini, kini harus pergi karena merasa lelah bermimpi disini. Tuntutan demi tuntutan tugas kini terasa berat. Seakan berada dipundak-pundak pemimpinya saja. Lantas apa masalah terberat dalam diri? Sampai tak habis pikir untuk terus berkorban sementara yang lain hanya memperjuangkan produktivitas pribadi?
Rabu, 13 November 2013
Ketika Pertanyaan Mengetuk Relung Hati
Empat bulan yang lalu, saya masih mengira-ngira kemana mimpi saya akan dibawa. Tiga bulan lalu, saya mulai mencintai hal ini sebagai kebiasaan setelah selesai berpuasa seharian. Dua bulan lalu, saya mulai membangun mimpi untuk mempertahankan hasrat saya disini. Akan tetapi, satu bulan yang lalu, saya mulai dibingungkan dengan semua ini. Perubahan demi perubahan, pergantian dan pergantian, serta kehilangan pun silih berganti.
Sabtu, 02 November 2013
Permohonan Maaf
Jika mengatakan bahwa ini ujian terberat, maka ini mungkin akan menjadi
ujian yang lebih besar dari yang sebenarnya terjadi. Ini perasaan yang sama,
rasa yang sama ketika saya terjatuh di pelukan Tuhan yang selalu sama. Dia
menciptakan cinta dengan cepat diantara orang-orang dalam hidup saya, tapi
begitu cepat pula Dia membalikkan semua itu. Dia datangkan banyak, dan Dia
jauhkan banyak pula orang-orang terdekat saya. Dia membuat saya dicinta, dan
dibenci pula oleh orang yang sama. Dia selalu memiliki cara untuk membawa saya
menghela nafas dan memejamkan mata sejenak
Saya masih berpijak di bumi yang sama. Tempat dimana saya dilahirkan dan
kelak nanti akan dikebumikan. Berbicara tentang kematian, saya amat takut
ketika membayangkan jiwa saya diangkat dan dibebaskan dari beban yang ada dalam
diri saya. Saya bisa membayangkan betapa beratnya melepas pikiran, perasaan,
dan semua harapan dibalik pilihan menuju keabadian. Setiap hari saya menolak untuk
menerima kematian karena takut tisak akan memiliki teman setia dalam keabadian.
Dia benar, Dia memang benar. Malam ini saya berada dikeramaian, akan tetapi
diri saya merasa sendiri. Merasa dimiliki jiwa yang tidak bisa mengatur detak
jantung yang semakin berdetak cepat. Saya merapuh mengikuti pikiran yang kalut
karena lelah mengikuti arus kehidupan. Terseret dari hulu dan belum tahu akan
berhenti dimana.
Beberapa saat lalu, saya meluangkan waktu untuk menghapuskan segala dosa
kepada orang terdekat saya. Orang tua, sanak keluarga, teman menempuh ilmu di
Fakultas, teman kosan, dan beberapa orang yang menyadari keterkaitan saya
dengan perasaan seperti ini. Kali ini, saya ingin sekali lagi menghapuskan dosa
dengan meminta maaf kepada setiap pembaca yang mungkin telah dirugikan karena
waktu dan pikiran yang telah dicurahkan untuk membaca tulisan berikut ini.
Tulisan ini terinspirasi dari beberapa teman di yang telah membuat saya
tersenyum bangga dan menangis pilu karena kesalahan yang saya buat. Mungkin terlalu
banyak perkataan atau perbuatan yang membuat teman-teman sakit hati. Semoga
kesediaan teman-teman untuk memaafkan saya, dibalas dengan kemudahan yang
berlipat ganda oleh Dia yang selalu mencintai kita.
Selasa, 29 Oktober 2013
Berbobot Lebih dari 24 sks :P
Saya baru saja merencanakan hal gila di saat saya memasuki
tahap perkembangan dewasa muda. Mengambil beban kerja yang bobotnya lebih dari
24 sks. Hehehe. Maaf ya kalo nanti kesannya curcol.
Harapan telah saya curahkan untuk hal hal berbau
kolaborasi ini. Tekad untuk melihat Indonesia yang lebih baik (dalam segala
bidang) menjadi alasan susahnya tertidur saat sudah memikirkan hal yang satu
ini. Saya tidak pernah se"ngoyo" ini, bahkan demi uang. Selama 3
tahun saya menjadi anak rantau, bekerja merupakan suatu hal yang sering saya lakukan.
Dari berjualan donat dan gorengan keliling kamar di Asrama UI, hingga tender
proyek ratusan juta di tempat kerja. Kedua hal tersebut saya lakukan dengan
santai dan tidak pernah berpikir panjang dalam setiap pengerjaannya. Ketika
saya malas, saya pun cuti dari semua rutinitas yang ada. Tidak peduli siapa
yang akan rugi jika saya tidak memenuhi tanggung jawab saya. Ibarat kata, saya
besok mati karena kelaparan pun tak apa.
Sampai akhirnya sekarang saya rela begadang setiap ada
waktu. Tidak sesekali, bahkan tidak tahu lagi harus menghitung menggunakan jari
yang mana lagi. Mata saya jarang terpejam di malam hari karena kenikmatan
berdiskusi dan memperjelas mimpi yang aneh ini.
KOLABORASI. Satu kata yang membuat hidup saya tidak
tenang akhir-akhir ini. Panca indra saya masih normal, masih bisa menangkap
stimulus-stimulus yang ada di luar diri saya. Masih bisa melihat, mendengar,
mencium, meraba, dan mengecap apa yang disajikan. Akan tetapi, saya hanya
sekedar memberikan perhatian untuk sepersekian detik, sampai akhirnya saya
kembali memikirkan kata sakral tersebut.
Jemari saya bisa menari-nari diatas keyboard laptop, akan
tetapi pikiran saya entah melayang jauh kemana. Menurut orang lain, mungkin hal
ini lebay atau mengandung majas hiperbola. Akan tetapi, memang demikian adanya
:p.
Satu hal yang membuat saya semangat lagi yaitu sugesti
yang saya berikan pada diri saya sendiri.
"Saya menjalankan ini bukan untuk materi, bukan pula untuk prestasi. Hanya saja, saya tidak mau Indonesia menunggu terlalu lama untuk bisa jaya kembali"
"Saya menjalankan ini bukan untuk materi, bukan pula untuk prestasi. Hanya saja, saya tidak mau Indonesia menunggu terlalu lama untuk bisa jaya kembali"
Ketika kita menunda 1 menit untuk mengerjakan mimpi ini,
maka Indonesia yang lebih baik akan tertunda 1 tahun dari waktu yang diimpikan.
Selasa, 03 September 2013
Memiliki Jiwa yang Lama
kadang badai datang
bagai tiupan angin pada sang lilin.
malam ini pun mulai bercerita
antara duka dan kecewa pada tirani
terlebur dan mencabik benih harap ku
lantas apa yang masih terpikir
bias air tuba membentengi diri
renungan asa kini tertimbun luka
tulisan cita pun jadi tak berharga
sesekali coba menderita
miliki jiwa yang telah terlupa lama
sedikit sakit laksana mencekik mimpi
mengurung imaji dalam untaian isi hati
mana bisa mereka mengerti
jikalau niat sudah tercampur urusan pribadi.
kini diri sudah kembali menjadi jiwa,
menyatu lekat bersama nafas yang terikat
meski hujan turun di malam hari,
mentari pun tetap bersinar esok hari.
Dibalik tirai biru aku menjerit
mengintip dunia yang lama menutupiku
cobalah tanyakan padaku
kisah apa yang terukir di bukuku
"perkataan raga pada jiwa yang menyala"
terima kasih telah menjadi jiwaku selama ini. mungkin aku hanya seonggok daging bertulang yang tak berarti. Ku miliki kamu, dan kau pun begitu. Cukup lah kita berdua, dan Tuhan menjadi saksinya
Senin, 10 Juni 2013
Jangan Mengeja Apa yang Sudah Tertulis
Sekejap ku melihat,
Seorang lelaki dengan Helm merah,
Motor merah, dan berbaju
abu-abu
Tinggi badan mungkin sama layaknya kamu
Berdiri di depan atm Mandiri,
dengan jalan yang sama,
Tetiba teringat teman 1 atau 2 tahun yang lalu
Yang kini sedang bersinar terang
Tatkala rindu menjadi saksi pilu,
Kenangan suaramu berbisik pelan memanggilku
Disini, di ujung gang kecil iini,
Tempat kita mengayuh pertemanan
Menyusuri setiap memori yang berlalu
Membuatku tertatih dengan ukiran penyesalan
Jikalau ada duri kutancapkan di relung hatimu
Maka ampunilah aku.
Betapa lelah aku menapaki hari ini
Sejenak bersandar di sudut kamar,
Teringat kembali akan perjalanan itu.
Lembayung di ujung Palmerah,
Terlihat ketika melaju di atas dua roda,
Kau kawanku dan romansaku
Rekan pertama dimana aku merasa sama
”A place where I come
back after had a long journey”
Tempatku melepas beban pundakku
Lantas haruskah memulai dari “Nol” lagi,
Untuk kedua kalinya, sementara kurasa sama
Aku kini menyadari,
Tak ada sedikitpun kenangan yang terbuang sia-sia
Akan ku pungut setiap memori itu,
Kusimpan rapi dalam album memori,
Tentang teman, yang berakhir dengan melodi.
Ku panjatkan doaku pada-Nya
agar Dia menjagamu dalam limpahan rahmat,
Dan agar Dia mengasihimu dalam limpahan sayang
Serta agar Dia mengenangmu dalam limpahan kenangan indah
*Ditulis disini, di
tengah gang kecil itu*
Selasa, 07 Mei 2013
Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part3
Oleh:
Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi
Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013
Nah, sekarang saya ingin melanjutkan kembali
analisa peluang Indonesia yang selanjutnya. Untuk kamu yang baru pertama kali
baca tulisan saya, silakan baca PENDAHULUAN-nya dulu yaa. Biar mindset kita
sama. .Disimak ya, silakan dikritisi setelah membaca sampai akhir tulisan ini J. Menurut Depdagri, peluang yang dimiliki
Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 adalah sebagai berikut:
(1). Manfaat integrasi
ekonomi & (2). Pasar
potensial dunia (baca disini)
(3). Negara pengekspor
& (4). Negara Tujuan Investor (baca disini)
5. Daya Saing. Adanya pembukaan pasar bebas dalam berbagai
sektor di perekonomian Indonesia mengurangi adanya hambatan tarif dan non-tarif
dalam perdagangan. Hal ini tentu menarik para produsen dan pelaku usaha untuk
mengembangkan bisnisnya pada pasar yang lebih luas. Ketika belum ada pasar
bebas, mungkin target pasarnya hanya berada pada pasar domestik saja, akan
tetapi setelah adanya pasar terbuka, mereka bisa menambah segmentasi pasar
mereka. Tantangan terbesar muncul bersamaan dengan munculnya persaingan harga, persaingan
kualitas, dan persaingan mencari konsumen. Jika para produsen dan pelaku usaha
tidak memasang strategi yang tepat, pasar terbuka yang sebenarnya dapat
menambah keuntungan justru dapat menjadi batu ganjalan bagi kemajuan usaha jika
kalah saing. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan adanya spesifikasi produk
yang membuat produk dari para produsen dan pelaku usaha Indonesia unik dan khas
sehingga berbeda dengan produk lain. Adanya konsumen setia yang dapat tetap
bertahan dengan kualitas yang dijaga oleh para produsen juga mampu menjadi
angin segar bagi eksistensi produk. Daya saing ini juga hendak kita hadapi
dalam sektor jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja juga. Dalam sektor jasa
dan tenaga kerja, para penyalur jasa dan produsen jasa yang dahulunya mungkin
hanya bersaing dengan orang yang ada disekitarnya, mungkin sekarang ini harus
makin peka dan mengoptimalkan potensi dirinya agar mampu bersaing secara sehat
pada AEC 2015 nanti. Sekali lagi saya informasikan bahwa AEC 2015 bukanlah suatu
bayang-bayang raksasa yang harus kita takuti. Siap tidak siap, kita HARUS SIAP
untuk bersaing dengan negara-negara tetangga, bahkan China dan negara yang
lain. Tidak lain demi eksistensi diri, komunitas, masyarakat, bangsa, dan
negara Indonesia. Persiapan menjelang AEC 2015 dimana akan ada istilah ”liberalisasi”
yang disuarakan disegala penjuru sepatutnya membuat kita sadar bahwa semangat
juang, pengembangan diri, dan kolaborasi aksi merupakan kunci awal kesuksesan
Indonesia menjadi tuan rumah bagi AEC 2015.
6.
Sektor Jasa yang Terbuka. Dibidang Jasa, Menurut survey yang dilakukan
SAKERNAS (2011), di Indonesia, jasa pertanian masih menempati posisi tertinggi
yaitu hampir 36% dari total peran sektor jasa dalam neraca pendapatan
Indonesia. Angka tersebut cukup tinggi dibanding dengan manufacturing yang
mencapai angka 13% dan jasa retail & wholesaler yang mencapai angka
21%. Sampai tahun 2013 ini, menurut penuturan Bapak Iskandar Panjaitan,
Direktorat Perundingan Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan Republik
Indonesia, ASEAN telah menyelesaikan 8 Paket Komitmen AFAS (ASEAN Framework Agreement
on Service) sampai dengan tahun 2012, dengan adanya 80 subsektor jasa yang
telah diintegrasikan. Dengan kata lain, ada 8 macam bidang jasa yang sudah
disiapkan untuk ”diliberalisasikan” pada tahun 2015 nanti.
8 Mutual Recognition Arrangements(MRA) yang telah disepakati antara lain:
1. MRA on Engineering Services
2. MRA on Nursing Services
3. MRA on Architectural Services
4. Framework Arrangement for Mutual Recognition on Surveying
5. Qualification
6. MRA on Tourism Professional
7. MRA on Accountancy Service
8. MRA on Medical Practitioners, MRA on Dental Practitioners
-----To be continued------
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
Senin, 22 April 2013
Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part2
Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . #Part2
Oleh:
Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi
Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013
Hello, this is
my third written for AEC 2015’s issue. Topik hari ini merupakan kelanjutan dari
tulisan saya yang kedua dimana saya mencoba melihat perspektif pemerintah dalam
menganalisa kesiapan Indonesia untuk menghadapi AEC 2015. Sekedar
mengingatkan, untuk yang baru pertama kali membaca isu AEC ini, silakan baca
terlebih dahulu penjelasan singkat AEC 2015 di Hitam Putih ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dan Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part1. Mengingatkan sedikit bahasan pada
tulisan #Part1 tentang potensi yang
dimiliki Indonesia, pemerintah mengutarakan bahwa Indonesia memiliki beberapa
peluang di dalam AEC 2015. Pertama, Indonesia memiliki kesempatan yang besar
untuk turut serta dalam memanfaatkan integrasi ekonomi dalam
membuka pasar yang lebih luas lagi di kawasan ASEAN. Kedua, potensi Indonesia yang
merupakan pasar potensial dunia, khususnya ASEAN, dimana penduduk
Indonesia menyumbang angka sebesar 40% total penduduk ASEAN. Letak geografis
Indonesia juga turut mendukung potensi SDM dan SDA yang ada di Indonesia.
Nah, sekarang
saya ingin melanjutkan kembali analisa peluang Indonesia yang selanjutnya.
Disimak ya, silakan dikritisi setelah membaca sampai akhir tulisan ini :) . Menurut DerDagRI,
peluang yang dimiliki Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 adalah sebagai
berikut:
- Manfaat integrasi ekonomi *
- Pasar potensial dunia*
- Negara pengekspor. Depdagri mencatat 10 komoditi unggulan ekspor Indonesia baik ke dunia maupun ke intra-ASEAN selama 5 tahun terakhir, tercatat dari tahun 2004-2008. Depdagri optimis bahwa kesepuluh komoditi ekspor ini potensial untuk semakin ditingkatkan dan menjadi komoditi unggulan ekspor dunia. Komoditi tersebut antara lain: kelapa sawit, tekstil & produk tekstil, elektronik, produk hasil hutan, karet & produk karet, otomotif, alas kaki, kakao, udang, dan kopi. Sementara untuk intra-ASEAN (di dalam kawasan ASEAN) komoditi ekspornya adalah minyak petroleum mentah, timah, minyak kelapa sawit, refined copper**, batubara**, karet, biji kakao, dan emas. Disamping itu, Depdagri menambahkan bahwa Indonesia juga masih punya komoditi lain yang punya peluang usaha untuk diekspor ke luar negeri antara lain: peralatan kantor, rempah-rempah, perhiasan, kerajinan, ikan & produk perikanan, minyak atsiri, makanan olahan, tanaman obat, peralatan medis, serta kulit & produk kulit. Nah itu komoditi ekspor yang hendak di optimalkan oleh pemerintah kita dalam menyikapi AEC 2015 nantinya. Sebagai seorang rakyat yang baik, tentunya kita harus senantiasa memanjatkan doa dalam setiap ibadah kita agar pemerintah dan para stakeholders perekonomian makro Indonesia dapat cermat dan teliti dalam mengidentifikasi tujuan pasar agar sesuai dengan segmen pasar dan spesifikasi dari kualitas komoditi yang ada. Jangan sampai penjualan komoditi yang notabene berasal dari kekayaan negara ini hanya akan menjadi konsumsi kantong sebagian orang saja. Semoga pendapatan nasional Indonesia dapat digunakan kembali untuk memperbaiki infrastruktur dan menjadikan Indonesia lebih baik lagi di masa yang akan datang.
- Negara Tujuan Investor. Dengan uraian “kekayaan” Indonesia di atas, tentu banyak investor yang berburu untuk datang ke Indonesia. Senin minggu lalu, sya menghadiri sebuah forum pemuda yang diprakarsai HIPMI di FE UI. Salah satu pembicaranya mengatakan bahwa secara kasar, jika dihitung-hitung investasi asing di Indonesia berjumlah sekitar 55% dari seluruh saham yang go public. Hal ini membuat Indonesia cukup bergantung dengan peluang kerjasama dengan swasta asing. Angka ini mungkin akan bertambah jika stakeholders pribumi tidak mencoba untuk melihat potensi investasi di Indonesia, atau mungkin karena kekurangan sumber daya untuk membeli saham. Jika kita bangga dan mengkonsumsi produk-produk dalam negeri, uang kita sedikit banyak akan menambah modal para pengusaha mikro, kecil dan menengah sehingga presentase saham mungkin akan dapat dikuasai kembali oleh pribumi
* sudah di bahas di
tulisan Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. .
.#Part1
** Ketika saya sedang berkunjung ke Port of Nagoya, Jepang, pada 4 April 2013 lalu, saya menemukan beberapa barang tambang yang diimpor dari Indonesia. Refined cooper yang dibicarakan di atas juga diimpor oleh Jepang dari Indonesia
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya
bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya
:)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
Minggu, 21 April 2013
AEC 2015: INDONESIA BISA!
Saya bahkan tidak akan mampu menjangkau lebih dari beberapa orang untuk akhirnya mereka mau membaca tulisan saya. Lantas apa yang membuat saya sangat bersemangat untuk meminta bantuan teman-teman sekalian untuk membagi pengetahuan melalui tulisan tersebut? Saya ingin meminta bantuan teman-teman untuk menyiapkan teman-teman di sekitar kita agar sama-sama memiliki visi yang sama dalam mensukseskan ASEAN Economic Community 2015 nanti. Bayangkan jika kita sadar akan tantangan yang harus kita hadapi, kemudian kita menyiapkan diri untuk menjadi lebih baik lagi, lalu menularkan kebiasaan baik tersebut kepada teman disekitar anda, seterusnya sampai mereka menularkan kebiasaan yang lebih baik lagi kepada orang lain, tentu akan banyak inspirasi yang didapat dari internal networking yang kita bangun.
Mari bagi dan dapatkan ilmu baru!
https://www.facebook.com/notes/fatmawati-indah-purnamasari/hitam-putih-asean-economic-communityaec-2015/585840998100292
https://www.facebook.com/notes/fatmawati-indah-purnamasari/menurut-pemerintah-asean-economic-community-aec-2015-itu-part1/586074131410312
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
Mari bagi dan dapatkan ilmu baru!
https://www.facebook.com/notes/fatmawati-indah-purnamasari/hitam-putih-asean-economic-communityaec-2015/585840998100292
https://www.facebook.com/notes/fatmawati-indah-purnamasari/menurut-pemerintah-asean-economic-community-aec-2015-itu-part1/586074131410312
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part1
Oleh:
Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi
Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013
Berikut
merupakan tulisan kedua saya tentang AEC 2015. Jika teman-teman ingin tahu
dasar pemikiran saya tentang AEC 2015, silakan baca di Hitam Putih ASEAN Economic Community(AEC) 2015.
Dalam tulisan pertama, saya mencoba untuk sedikit menggambarkan AEC 2015
berdasarkan cetak biru AEC 2015. Setelah itu, saya memberikan sedikit paparan
tentang peran pemuda Indonesia dalam mendukung kemajuan AEC 2015. Dalam tulisan
kedua ini, saya kembali memaparkan sedikit penjelasan AEC 2015 akan tetapi dari
sudut pandang pemerintah Indonesia. Silakan membaca dan mengomentari/memberikan
tanggapan/kritik/saran/perbaikan terhadap tulisan-tulisan saya. Terima kasih
atas kesediaannya meluangkan waktu untuk membaca sampai akhir.
Tidak hanya
mengaju pada cetak biru AEC 2015, pemerintah Indonesia mencoba untuk melakukan
analisa terhadap AEC 2015 melalui analisis terhadap kesiapan Indonesia menuju
AEC 2015. Bisa diunduh di Indonesia menuju ASEAN Economic Community 2015.
Bapak Gusmadi Bustami, selaku Dirjen Kerjasama Perdagangan International,
DepDagRI mengatakan bahwa penerbitan buku tersebut dimaksudkan untuk
mensosialisasikan dan mengkomunikasikan hasil-hasil kesepakatan dan
perkembangan implementasi kesepakatan kerjasama integrasi ekonomi ASEAN
sebagaimana yang tercetak di cetak biru. Dengan adanya buku ini, diharapkan
seluruh stakeholder perekonomian Indonesia dan seluruh komponen bangsa Indonesia
memiliki pemahaman yang sama, satu langkah dan irama yang berfokus dalam
pencapaian AEC 2015. Cita-cita yang mulia bukan?
Nah untuk kali
ini, saya mencoba untuk melihat analisis peluang dan tantangan yang dipaparkan
oleh pemerintah kita. Menurut DerDagRI, peluang yang dimiliki Indonesia dalam
menghadapi AEC 2015 adalah sebagai berikut:
1.
Manfaat Integrasi
Ekonomi. Menurut Depdagri, Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk
dapat membuka dan membentuk pasar yang lebih luas lagi. Hal ini akan mendorong
peningkatan efisiensi dan daya saing, serta pembukaan peluang penyerapan tenaga
kerja di kawasan ASEAN. Dari hal tersebut, tantangan kita sebagai seorang
pemuda yang nantinya akan menjadi tenaga kerja/wirausahawan, yang perlu kita
siapkan adalah pembekalan dini terhadap peningkatan kualitas dan ketrampilan
kita. Jika saat ini teman-teman hanya mengutamakan peningkatan hard-skill
saja, coba sedikit demi sedikit meningkatkan soft-skill juga sehingga
efektifitas dan efisiensi dalam bekerja nantinya bisa OK. Memang persaingan
tenaga kerja di 2015 nanti akan menurunkan probability kita untuk mendapatkan
pekerjaa, akan tetapi ketika kita sudah mempersiapkan diri kita sedari dini,
kita tentu akan tetap mendapatkan tempat yang kita inginkan. Keuntungannya ketika
kita hendak bekerja di Indonesia, kita sudah mengetahui budaya dan bahasa yang
digunakan, sementara mungkin para pekerja asing yang hendak masuk Indonesia
belum sempat mempelajari itu. Syukur-syukur kalau teman-teman dapat
meningkatkan kemampuan diri dalam berbahasa Inggris, mungkin hal tersebut akan
jauh lebih baik lagi.
2.
Pasar Potensial Dunia.
Seperti yang saya kemukakan dalam analisa saya di tulisan yang pertama,
penduduk Indonesia menyumbang angka 40% penduduk ASEAN tentu saja merupakan
potensi yang sangat besar bagi Indonesia dalam menjadi negara ekonomi yang
produktif dan dinamis yang dapat memimpin pasar ASEAN di masa depan. Nah
sekarang saya meminta kesediaan teman-teman untuk menggunakan imaginasi
sejenak. Bayangkan ketika 40% penduduk ASEAN, yaitu penduduk Indonesia menjadi
konsumen dari produk-produk negara tetangga (dengan tidak adanya tariff impor yang
masuk ke kantong negara). Itu adalah kondisi yang pertama, dan sekarang
bayangkan jika 10%-40% penduduk ASEAN, khususnya penduduk Indonesia, menjadi
produsen atau mendirikan UMKM dan melakukan ekspor ke 9 negara ASEAN lain
(dengan adanya pajak penghasilan, sewa, dll yang masuk ke kantong negara)
kira-kira pendapatan nasional Indonesia lebih banyak yang mana? Kasus 1 atau kasus
2? Jika menurut anda jawabannya adalah pada kasus 1, mungkin teman-teman perlu
mempertimbangkan lagi untuk menggunakan uang yang ada secara lebih bijak,
karena bisa saja kita akan mengalami inflasi besar-besaran dalam waktu dekat.
Akan tetapi, jika teman-teman menjawab kasus 2, maka sudah sepatutnya kita
menjadi pemuda calon pemimpin negara ini karena mampu memiliki visi untuk
menggerakkan perekonomian dan meningkatkan pendapatan nasional Indonesia.
Lantas apa yang dapat teman-teman lakukan jika memang saat ini belum mampu
menjadi pengusaha? Jawabannya adalah kesediaan untuk memulai dari diri sendiri.
(a) persiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang ada, (b) kurangi
konsumerisme barang-barang impor. (c) Bangga terhadap produk dalam negeri, kalau
memang memiliki uang untuk dibelanjakan, belilah produk-produk Indonesia,
sehingga uang kita bisa masuk ke kantong negara, dan (d) perluaslah komunikasi
dan networking anda dengan banyak orang sehingga pengalaman, pengetahuan, dan
kesiapan aksi anda dapat lebih mantaaap. INDONESIA BISA!!!
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya
bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya
:)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
Sabtu, 20 April 2013
Hitam Putih ASEAN Economic Community(AEC) 2015
Hitam Putih ASEAN Economic Community(AEC) 2015
Oleh:
Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi
Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013
Dalam beberapa menit, coba bayangkan saat ini Anda pergi
ke suatu supermarket atau pasar traidisional untuk membeli beras. Sudah? Apa
yang Anda lihat? Apakah kemungkinan besar dari Anda masih bisa menemukan beras
Cianjur, Bogor, Depok, Jawa Tengah, dan beras-beras yang berasal dari kota-kota
di Indonesia?
Nah, sekarang bayangkan kembali dalam beberapa menit,
suasana 2 tahun yang akan datang, ketika Anda juga pergi ke suatu supermarket
atau pasar tradisional untuk membeli beras. Apa jadinya ketika beras yang Anda
temui pada hari ini, sudah tidak terlihat. Bayangkan jika di supermarket atau
pasar tradisional tersebut Anda hanya menemui beras Vietnam, Thailand, Kamboja,
Laos, Filipina, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Myanmar. Apa yang hendak Anda
lakukan? Lantas, mengapa bisa terjadi hal demikian? Berikut sepenggal kisah
yang hendak saya paparkan. Simak ya :)
Munculnya produk-produk atau jasa yang berbau
negara-negara ASEAN di Indonesia sebenarnya dilatar belakangi oleh AEC yang
hendak dimaksimalkan di tahun 2015 nanti. Lantas sudah tahukah kamu dengan isu
terkini yang bertemakan ASEAN Economic Community (AEC) yang hendak
dimanifestasikan secara penuh di tahun 2015 itu? Sebelumnya, alangkah baiknya
ketika kita mengawali langkah kita dalam tulisan ini dengan pemahaman yang
sama. Menurut Blueprint AEC 2015 yang dapat diunduh di blue print AEC 2015, AEC merupakan suatu realisasi dari tujuan akhir
integrasi ekonomi seperti Visi ASEAN 2020. Pertemuan para petinggi ASEAN di
Bali, Indonesia, pada Oktober 2003 silam menghasilkan suatu kesepakatan bahwa demi
mencapai konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan
memperluas integrasi ekonomi, diperlukan suatu inisiatif baru dengan
perencanaan yang jelas. Selanjutnya pada ASEAN Economic Ministers
Meeting(AEM)(pertemuan Menteri Ekonomi se-ASEAN) pada Agustus 2006 di Kuala
Lumpur, Malaysia, muncul kesepakatan untuk mengembangkan blueprint(cetak
biru) yang tunggal dan koheren guna menjadi dasar pelaksanaan berbegai tindakan
dalam bidang ekonomi. Pada KTT ASEAN ke-12, Januari 2007, Para pemimpin negara
ASEAN sepakat untuk mempercepat pembentukan AEC pada 2015 dan mengubah ASEAN
menjadi wilayah dengan pergerakan bebas terhadap barang, jasa, investasi,
tenaga kerja terampil, dan aliran modal lain dengan lebih bebas lagi.
Konsep perdagangan bebas antar negara ASEAN tersebut
selanjutnya dituntun oleh karakteristik perdagangan yang tercantum juga dalam
cetak biru AEC 2015. AEC diharapkan memiliki karakteristik sebagai berikut: (1)
pasar tunggal dan berbasis produksi, (2) wilayah ekonomi yang kompetitif, (3)
wilayah pembangunan ekonomi yang adil, dan (4) wilayah yang terintegrasi ke
dalam ekonomi global. Dari 4 karakteristik tersebut, dapat kita pahami dengan
sedikit berkecil hati bahwa jika saat ini kita berlaku sebagai seorang
pedagang, maka kita hendak mendapatkan berbagai saingan atau kompetitor yang
datang dari 9 negara ASEAN lain. Akan tetapi, jika kita sekarang
adalah konsumen “sejati” yang hobi untuk berbelanja, mungkin kita akan
terpuaskan dengan banyaknya pilihan barang dan harga yang relative beragam atau
justru malah seragam.
Nah itu
dari sisi 1. Disisi yang kedua, perlu teman-teman tahu bahwa dengan adanya AEC
2015, pergerakan barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terlatih
tentunya akan sangat bebas dan jauh dari kata “pajak pemerintah”. Sedikit
informasi, pajak itu turut menyokong angka pendapatan nasional negara kita lho.
Nah, lantas negara ini dapat pemasukan dari mana ya, kalau tidak ada barang
yang kena pajak? Bisa-bisa angka pendapatan nasional Indonesia kita tercinta
menurun kalau tidak ada barang kena Pajak.
Nah,
sebenarnya, dibalik permasalahan yang diilustrasikan di atas, tindakan kecil
dari teman-teman bisa sedikit demi sedikit membantu pergerakan Indonesia untuk
bisa menghadapi tantangan AEC 2015 lho. Mau tau gak gimana caranya? Berikut
ilustrasinya J
Dan
uang teman-teman yang dibelanjakan untuk membeli produk dalam negeri itu,
sebenarnya akan menggerakkan usaha kecil dan menengah yang ada di Indonesia
sehingga perekonomian domestik yang ada di sekitar kita bisa tetap stabil.
Paragraf
terakhir, tapi bukan berarti langkah terakhir saya dalam mensosialisasikan AEC
2015, saya ingin memberikan gambaran kepada teman-teman tentang potensi yang
dimiliki negeri kita tercinta ini.
ü Indonesia itu menyumbang 40% total penduduk ASEAN
ü Luas Indonesia itu terbesar keempat di dunia, dimana dibanding 9 negara ASEAN yang ada, Indonesia menjadi negara terbesar.
ü Indonesia memiliki penduduk dengan usia produktif terbesar diantara 9 negara ASEAN lain
ü Indonesia memiliki penduduk dengan kelas menengah terbesar di antara 9 negara lain
ü Prospektif destination ke-4 dengan adanya 33 provinsi yang ada di Indonesia.
ü Indonesia itu menyumbang 40% total penduduk ASEAN
ü Luas Indonesia itu terbesar keempat di dunia, dimana dibanding 9 negara ASEAN yang ada, Indonesia menjadi negara terbesar.
ü Indonesia memiliki penduduk dengan usia produktif terbesar diantara 9 negara ASEAN lain
ü Indonesia memiliki penduduk dengan kelas menengah terbesar di antara 9 negara lain
ü Prospektif destination ke-4 dengan adanya 33 provinsi yang ada di Indonesia.
Jadi,
marilah bersatu atas nama pemuda Indonesia dalam memanfaatkan setiap potensi
yang dimiliki Indonesia. Marilah menjadi tuan rumah untuk AEC 2015 dimana hal
ini berawal dari saya, Anda, teman-teman di sekitar Anda, keluarga, dan
komunitas Anda untuk memulai dari langkah kecil yaitu “aware/sadar” dengan
adanya tantangan AEC 2015 dimana kita harus meminimalisir budaya konsumerisme.
Untuk teman-teman yang hendak berwirausaha, mari kita menumbuhkan perekonomian
mikro dan pasar domestik yang dapat menggerakkan perekonomian rakyat.
Syukur-syukur dan pasti BISA menjadi eksportir untuk 9 negara ASEAN yang lain.
Amiin.
Mari
membangun masyarakat ekonomi yang peduli dan menjadi generasi muda yang
berkualitas dan berdaya saing dalam memajukan bangsa dengan mampu menghadapi
berbagai tantangan global. INDONESIA BISA!!!
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
Blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539
Langganan:
Postingan (Atom)







