Selasa, 03 September 2013

Memiliki Jiwa yang Lama

:

pelita tak selamanya menyala

kadang badai datang 

bagai tiupan angin pada sang lilin.

malam ini pun mulai bercerita

antara duka dan kecewa pada tirani

terlebur dan mencabik benih harap ku



lantas apa yang masih terpikir

bias air tuba membentengi diri

renungan asa kini tertimbun luka 

tulisan cita pun jadi tak berharga



sesekali coba menderita

miliki jiwa yang telah terlupa lama

sedikit sakit laksana mencekik mimpi

mengurung imaji dalam untaian isi hati



mana bisa mereka mengerti

jikalau niat sudah tercampur urusan pribadi.

kini diri sudah kembali menjadi jiwa,

menyatu lekat bersama nafas yang terikat

meski hujan turun di malam hari,

mentari pun tetap bersinar esok hari.



Dibalik tirai biru aku menjerit

mengintip dunia yang lama menutupiku

cobalah tanyakan padaku

kisah apa yang terukir di bukuku



"perkataan raga pada jiwa yang menyala"

terima kasih telah menjadi jiwaku selama ini. mungkin aku hanya seonggok daging bertulang yang tak berarti. Ku miliki kamu, dan kau pun begitu. Cukup lah kita berdua, dan Tuhan menjadi saksinya





Senin, 10 Juni 2013

Jangan Mengeja Apa yang Sudah Tertulis

Sekejap ku melihat,
Seorang lelaki dengan Helm merah, 
Motor merah, dan berbaju abu-abu
Tinggi badan mungkin sama layaknya kamu
Berdiri di depan atm Mandiri,
dengan jalan yang sama,
Tetiba teringat teman 1 atau 2 tahun yang lalu
Yang kini sedang bersinar terang

Tatkala rindu menjadi saksi pilu,
Kenangan suaramu berbisik pelan memanggilku
Disini, di ujung gang kecil iini,
Tempat kita mengayuh pertemanan
Menyusuri setiap memori yang berlalu
Membuatku tertatih dengan ukiran penyesalan

Jikalau ada duri kutancapkan di relung hatimu
Maka ampunilah aku.
Betapa lelah aku menapaki hari ini
Sejenak bersandar di sudut kamar,
Teringat kembali akan perjalanan itu.

Lembayung di ujung Palmerah,
Terlihat ketika melaju di atas dua roda,
Kau kawanku dan romansaku
Rekan pertama dimana aku merasa sama
A place where I come back after had a long journey
Tempatku melepas beban pundakku

Lantas haruskah memulai dari “Nol” lagi,
Untuk kedua kalinya, sementara kurasa sama
Aku kini menyadari,
Tak ada sedikitpun kenangan yang terbuang sia-sia
Akan ku pungut setiap memori itu,
Kusimpan rapi dalam album memori,
Tentang teman, yang berakhir dengan melodi.

Ku panjatkan doaku pada-Nya
agar Dia menjagamu dalam limpahan rahmat,
 Dan agar Dia mengasihimu dalam limpahan sayang
Serta agar Dia mengenangmu dalam limpahan kenangan indah
*Ditulis disini, di tengah gang kecil itu*




Selasa, 07 Mei 2013

Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part3



Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part3
Oleh: Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013

Nah, sekarang saya ingin melanjutkan kembali analisa peluang Indonesia yang selanjutnya. Untuk kamu yang baru pertama kali baca tulisan saya, silakan baca PENDAHULUAN-nya dulu yaa. Biar mindset kita sama. .Disimak ya, silakan dikritisi setelah membaca sampai akhir tulisan ini J. Menurut Depdagri, peluang yang dimiliki Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 adalah sebagai berikut:

(1). Manfaat integrasi ekonomi  & (2). Pasar potensial dunia (baca disini)
(3). Negara pengekspor & (4). Negara Tujuan Investor (baca disini)

5.    Daya Saing. Adanya pembukaan pasar bebas dalam berbagai sektor di perekonomian Indonesia mengurangi adanya hambatan tarif dan non-tarif dalam perdagangan. Hal ini tentu menarik para produsen dan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya pada pasar yang lebih luas. Ketika belum ada pasar bebas, mungkin target pasarnya hanya berada pada pasar domestik saja, akan tetapi setelah adanya pasar terbuka, mereka bisa menambah segmentasi pasar mereka. Tantangan terbesar muncul bersamaan dengan munculnya persaingan harga, persaingan kualitas, dan persaingan mencari konsumen. Jika para produsen dan pelaku usaha tidak memasang strategi yang tepat, pasar terbuka yang sebenarnya dapat menambah keuntungan justru dapat menjadi batu ganjalan bagi kemajuan usaha jika kalah saing. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan adanya spesifikasi produk yang membuat produk dari para produsen dan pelaku usaha Indonesia unik dan khas sehingga berbeda dengan produk lain. Adanya konsumen setia yang dapat tetap bertahan dengan kualitas yang dijaga oleh para produsen juga mampu menjadi angin segar bagi eksistensi produk. Daya saing ini juga hendak kita hadapi dalam sektor jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja juga. Dalam sektor jasa dan tenaga kerja, para penyalur jasa dan produsen jasa yang dahulunya mungkin hanya bersaing dengan orang yang ada disekitarnya, mungkin sekarang ini harus makin peka dan mengoptimalkan potensi dirinya agar mampu bersaing secara sehat pada AEC 2015 nanti. Sekali lagi saya informasikan bahwa AEC 2015 bukanlah suatu bayang-bayang raksasa yang harus kita takuti. Siap tidak siap, kita HARUS SIAP untuk bersaing dengan negara-negara tetangga, bahkan China dan negara yang lain. Tidak lain demi eksistensi diri, komunitas, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Persiapan menjelang AEC 2015 dimana akan ada istilah ”liberalisasi” yang disuarakan disegala penjuru sepatutnya membuat kita sadar bahwa semangat juang, pengembangan diri, dan kolaborasi aksi merupakan kunci awal kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah bagi AEC 2015.

6.       Sektor Jasa yang Terbuka. Dibidang Jasa, Menurut survey yang dilakukan SAKERNAS (2011), di Indonesia, jasa pertanian masih menempati posisi tertinggi yaitu hampir 36% dari total peran sektor jasa dalam neraca pendapatan Indonesia. Angka tersebut cukup tinggi dibanding dengan manufacturing yang mencapai angka 13% dan jasa retail & wholesaler yang mencapai angka 21%. Sampai tahun 2013 ini, menurut penuturan Bapak Iskandar Panjaitan, Direktorat Perundingan Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, ASEAN telah menyelesaikan 8 Paket Komitmen AFAS (ASEAN Framework Agreement on Service) sampai dengan tahun 2012, dengan adanya 80 subsektor jasa yang telah diintegrasikan. Dengan kata lain, ada 8 macam bidang jasa yang sudah disiapkan untuk ”diliberalisasikan” pada tahun 2015 nanti.
8 Mutual Recognition Arrangements(MRA) yang telah disepakati antara lain:
1. MRA on Engineering Services
2. MRA on Nursing Services
3. MRA on Architectural Services
4. Framework Arrangement for Mutual Recognition on Surveying 
5. Qualification
6. MRA on Tourism Professional
7. MRA on Accountancy Service
8. MRA on Medical Practitioners, MRA on Dental Practitioners

-----To be continued------
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539




Senin, 22 April 2013

Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part2


Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . #Part2
Oleh: Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013

Hello, this is my third written for AEC 2015’s issue. Topik hari ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya yang kedua dimana saya mencoba melihat perspektif pemerintah dalam menganalisa kesiapan Indonesia untuk menghadapi AEC 2015. Sekedar mengingatkan, untuk yang baru pertama kali membaca isu AEC ini, silakan baca terlebih dahulu penjelasan singkat AEC 2015 di Hitam Putih ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dan Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part1. Mengingatkan sedikit bahasan pada tulisan #Part1 tentang  potensi yang dimiliki Indonesia, pemerintah mengutarakan bahwa Indonesia memiliki beberapa peluang di dalam AEC 2015. Pertama, Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk turut serta dalam memanfaatkan integrasi ekonomi dalam membuka pasar yang lebih luas lagi di kawasan ASEAN. Kedua, potensi Indonesia yang merupakan pasar potensial dunia, khususnya ASEAN, dimana penduduk Indonesia menyumbang angka sebesar 40% total penduduk ASEAN. Letak geografis Indonesia juga turut mendukung potensi SDM dan SDA yang ada di Indonesia.
Nah, sekarang saya ingin melanjutkan kembali analisa peluang Indonesia yang selanjutnya. Disimak ya, silakan dikritisi setelah membaca sampai akhir tulisan ini :) . Menurut DerDagRI, peluang yang dimiliki Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 adalah sebagai berikut:
  1. Manfaat integrasi ekonomi *
  2. Pasar potensial dunia*
  3. Negara pengekspor. Depdagri mencatat 10 komoditi unggulan ekspor Indonesia baik ke dunia maupun ke intra-ASEAN selama 5 tahun terakhir, tercatat dari tahun 2004-2008. Depdagri optimis bahwa kesepuluh komoditi ekspor ini potensial untuk semakin ditingkatkan dan menjadi komoditi unggulan ekspor dunia. Komoditi tersebut antara lain: kelapa sawit, tekstil & produk tekstil, elektronik, produk hasil hutan, karet & produk karet, otomotif, alas kaki, kakao, udang, dan kopi. Sementara untuk intra-ASEAN (di dalam kawasan ASEAN) komoditi ekspornya adalah minyak petroleum mentah, timah, minyak kelapa sawit, refined copper**, batubara**, karet, biji kakao, dan emas. Disamping itu, Depdagri menambahkan bahwa Indonesia juga masih punya komoditi lain yang punya peluang usaha untuk diekspor ke luar negeri antara lain: peralatan kantor, rempah-rempah, perhiasan, kerajinan, ikan & produk perikanan, minyak atsiri, makanan olahan, tanaman obat, peralatan medis, serta kulit & produk kulit. Nah itu komoditi ekspor yang hendak di optimalkan oleh pemerintah kita dalam menyikapi AEC 2015 nantinya. Sebagai seorang rakyat yang baik, tentunya kita harus senantiasa memanjatkan doa dalam setiap ibadah kita agar pemerintah dan para stakeholders perekonomian makro Indonesia dapat cermat dan teliti dalam mengidentifikasi tujuan pasar agar sesuai dengan segmen pasar dan spesifikasi dari kualitas komoditi yang ada. Jangan sampai penjualan komoditi yang notabene berasal dari kekayaan negara ini hanya akan menjadi konsumsi kantong sebagian orang saja. Semoga pendapatan nasional Indonesia dapat digunakan kembali untuk memperbaiki infrastruktur dan menjadikan Indonesia lebih baik lagi di masa yang akan datang.
  4. Negara Tujuan Investor. Dengan uraian “kekayaan” Indonesia di atas, tentu banyak investor yang berburu untuk datang ke Indonesia. Senin minggu lalu, sya menghadiri sebuah forum pemuda yang diprakarsai HIPMI di FE UI. Salah satu pembicaranya mengatakan bahwa secara kasar, jika dihitung-hitung investasi asing di Indonesia berjumlah sekitar 55% dari seluruh saham yang go public. Hal ini membuat Indonesia cukup bergantung dengan peluang kerjasama dengan swasta asing. Angka ini mungkin akan bertambah jika stakeholders pribumi tidak  mencoba untuk melihat potensi investasi di Indonesia, atau mungkin karena kekurangan sumber daya untuk membeli saham. Jika kita bangga dan mengkonsumsi produk-produk dalam negeri, uang kita sedikit banyak akan menambah modal para pengusaha mikro, kecil dan menengah sehingga presentase saham mungkin akan dapat dikuasai kembali oleh pribumi
* sudah di bahas di tulisan Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part1
** Ketika saya sedang berkunjung ke Port of Nagoya, Jepang, pada 4 April 2013 lalu, saya menemukan beberapa barang tambang yang diimpor dari Indonesia. Refined cooper yang dibicarakan di atas juga diimpor oleh Jepang dari Indonesia




-----To be continued------
Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui

blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539

Minggu, 21 April 2013

AEC 2015: INDONESIA BISA!


Saya bahkan tidak akan mampu menjangkau lebih dari beberapa orang untuk akhirnya mereka mau membaca tulisan saya. Lantas apa yang membuat saya sangat bersemangat untuk meminta bantuan teman-teman sekalian untuk membagi pengetahuan melalui tulisan tersebut? Saya ingin meminta bantuan teman-teman untuk menyiapkan teman-teman di sekitar kita agar sama-sama memiliki visi yang sama dalam mensukseskan ASEAN Economic Community 2015 nanti. Bayangkan jika kita sadar akan tantangan yang harus kita hadapi, kemudian kita menyiapkan diri untuk menjadi lebih baik lagi, lalu menularkan kebiasaan baik tersebut kepada teman disekitar anda, seterusnya sampai mereka menularkan kebiasaan yang lebih baik lagi kepada orang lain, tentu akan banyak inspirasi yang didapat dari internal networking yang kita bangun.
Mari bagi dan dapatkan ilmu baru!

https://www.facebook.com/notes/fatmawati-indah-purnamasari/hitam-putih-asean-economic-communityaec-2015/585840998100292

https://www.facebook.com/notes/fatmawati-indah-purnamasari/menurut-pemerintah-asean-economic-community-aec-2015-itu-part1/586074131410312

Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539

Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .#Part1


Menurut Pemerintah, ASEAN Economic Community (AEC) 2015 itu. . .
Oleh: Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013

Berikut merupakan tulisan kedua saya tentang AEC 2015. Jika teman-teman ingin tahu dasar pemikiran saya tentang AEC 2015, silakan baca di Hitam Putih ASEAN Economic Community(AEC) 2015. Dalam tulisan pertama, saya mencoba untuk sedikit menggambarkan AEC 2015 berdasarkan cetak biru AEC 2015. Setelah itu, saya memberikan sedikit paparan tentang peran pemuda Indonesia dalam mendukung kemajuan AEC 2015. Dalam tulisan kedua ini, saya kembali memaparkan sedikit penjelasan AEC 2015 akan tetapi dari sudut pandang pemerintah Indonesia. Silakan membaca dan mengomentari/memberikan tanggapan/kritik/saran/perbaikan terhadap tulisan-tulisan saya. Terima kasih atas kesediaannya meluangkan waktu untuk membaca sampai akhir.
Tidak hanya mengaju pada cetak biru AEC 2015, pemerintah Indonesia mencoba untuk melakukan analisa terhadap AEC 2015 melalui analisis terhadap kesiapan Indonesia menuju AEC 2015. Bisa diunduh di Indonesia menuju ASEAN Economic Community 2015. Bapak Gusmadi Bustami, selaku Dirjen Kerjasama Perdagangan International, DepDagRI mengatakan bahwa penerbitan buku tersebut dimaksudkan untuk mensosialisasikan dan mengkomunikasikan hasil-hasil kesepakatan dan perkembangan implementasi kesepakatan kerjasama integrasi ekonomi ASEAN sebagaimana yang tercetak di cetak biru. Dengan adanya buku ini, diharapkan seluruh stakeholder perekonomian Indonesia dan seluruh komponen bangsa Indonesia memiliki pemahaman yang sama, satu langkah dan irama yang berfokus dalam pencapaian AEC 2015. Cita-cita yang mulia bukan?

Nah untuk kali ini, saya mencoba untuk melihat analisis peluang dan tantangan yang dipaparkan oleh pemerintah kita. Menurut DerDagRI, peluang yang dimiliki Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 adalah sebagai berikut:
1.       Manfaat Integrasi Ekonomi. Menurut Depdagri, Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk dapat membuka dan membentuk pasar yang lebih luas lagi. Hal ini akan mendorong peningkatan efisiensi dan daya saing, serta pembukaan peluang penyerapan tenaga kerja di kawasan ASEAN. Dari hal tersebut, tantangan kita sebagai seorang pemuda yang nantinya akan menjadi tenaga kerja/wirausahawan, yang perlu kita siapkan adalah pembekalan dini terhadap peningkatan kualitas dan ketrampilan kita. Jika saat ini teman-teman hanya mengutamakan peningkatan hard-skill saja, coba sedikit demi sedikit meningkatkan soft-skill juga sehingga efektifitas dan efisiensi dalam bekerja nantinya bisa OK. Memang persaingan tenaga kerja di 2015 nanti akan menurunkan probability kita untuk mendapatkan pekerjaa, akan tetapi ketika kita sudah mempersiapkan diri kita sedari dini, kita tentu akan tetap mendapatkan tempat yang kita inginkan. Keuntungannya ketika kita hendak bekerja di Indonesia, kita sudah mengetahui budaya dan bahasa yang digunakan, sementara mungkin para pekerja asing yang hendak masuk Indonesia belum sempat mempelajari itu. Syukur-syukur kalau teman-teman dapat meningkatkan kemampuan diri dalam berbahasa Inggris, mungkin hal tersebut akan jauh lebih baik lagi.
2.       Pasar Potensial Dunia. Seperti yang saya kemukakan dalam analisa saya di tulisan yang pertama, penduduk Indonesia menyumbang angka 40% penduduk ASEAN tentu saja merupakan potensi yang sangat besar bagi Indonesia dalam menjadi negara ekonomi yang produktif dan dinamis yang dapat memimpin pasar ASEAN di masa depan. Nah sekarang saya meminta kesediaan teman-teman untuk menggunakan imaginasi sejenak. Bayangkan ketika 40% penduduk ASEAN, yaitu penduduk Indonesia menjadi konsumen dari produk-produk negara tetangga (dengan tidak adanya tariff impor yang masuk ke kantong negara). Itu adalah kondisi yang pertama, dan sekarang bayangkan jika 10%-40% penduduk ASEAN, khususnya penduduk Indonesia, menjadi produsen atau mendirikan UMKM dan melakukan ekspor ke 9 negara ASEAN lain (dengan adanya pajak penghasilan, sewa, dll yang masuk ke kantong negara) kira-kira pendapatan nasional Indonesia lebih banyak yang mana? Kasus 1 atau kasus 2? Jika menurut anda jawabannya adalah pada kasus 1, mungkin teman-teman perlu mempertimbangkan lagi untuk menggunakan uang yang ada secara lebih bijak, karena bisa saja kita akan mengalami inflasi besar-besaran dalam waktu dekat. Akan tetapi, jika teman-teman menjawab kasus 2, maka sudah sepatutnya kita menjadi pemuda calon pemimpin negara ini karena mampu memiliki visi untuk menggerakkan perekonomian dan meningkatkan pendapatan nasional Indonesia. Lantas apa yang dapat teman-teman lakukan jika memang saat ini belum mampu menjadi pengusaha? Jawabannya adalah kesediaan untuk memulai dari diri sendiri. (a) persiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang ada, (b) kurangi konsumerisme barang-barang impor. (c) Bangga terhadap produk dalam negeri, kalau memang memiliki uang untuk dibelanjakan, belilah produk-produk Indonesia, sehingga uang kita bisa masuk ke kantong negara, dan (d) perluaslah komunikasi dan networking anda dengan banyak orang sehingga pengalaman, pengetahuan, dan kesiapan aksi anda dapat lebih mantaaap. INDONESIA BISA!!!


 -to be continued


Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui

blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539

Sabtu, 20 April 2013

Hitam Putih ASEAN Economic Community(AEC) 2015


Hitam Putih ASEAN Economic Community(AEC) 2015
Oleh: Fatmawati Indah Purnamasari
Delegasi Indonesia untuk JENESYS 2.0 bertemakan AEC 2015, Jepang 31 Maret-7 April 2013


Dalam beberapa menit, coba bayangkan saat ini Anda pergi ke suatu supermarket atau pasar traidisional untuk membeli beras. Sudah? Apa yang Anda lihat? Apakah kemungkinan besar dari Anda masih bisa menemukan beras Cianjur, Bogor, Depok, Jawa Tengah, dan beras-beras yang berasal dari kota-kota di Indonesia?
Nah, sekarang bayangkan kembali dalam beberapa menit, suasana 2 tahun yang akan datang, ketika Anda juga pergi ke suatu supermarket atau pasar tradisional untuk membeli beras. Apa jadinya ketika beras yang Anda temui pada hari ini, sudah tidak terlihat. Bayangkan jika di supermarket atau pasar tradisional tersebut Anda hanya menemui beras Vietnam, Thailand, Kamboja, Laos, Filipina, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Myanmar. Apa yang hendak Anda lakukan? Lantas, mengapa bisa terjadi hal demikian? Berikut sepenggal kisah yang hendak saya paparkan. Simak ya :)
Munculnya produk-produk atau jasa yang berbau negara-negara ASEAN di Indonesia sebenarnya dilatar belakangi oleh AEC yang hendak dimaksimalkan di tahun 2015 nanti. Lantas sudah tahukah kamu dengan isu terkini yang bertemakan ASEAN Economic Community (AEC) yang hendak dimanifestasikan secara penuh di tahun 2015 itu? Sebelumnya, alangkah baiknya ketika kita mengawali langkah kita dalam tulisan ini dengan pemahaman yang sama. Menurut Blueprint AEC 2015 yang dapat diunduh di blue print AEC 2015, AEC merupakan suatu realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi seperti Visi ASEAN 2020. Pertemuan para petinggi ASEAN di Bali, Indonesia, pada Oktober 2003 silam menghasilkan suatu kesepakatan bahwa demi mencapai konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi, diperlukan suatu inisiatif baru dengan perencanaan yang jelas. Selanjutnya pada ASEAN Economic Ministers Meeting(AEM)(pertemuan Menteri Ekonomi se-ASEAN) pada Agustus 2006 di Kuala Lumpur, Malaysia, muncul kesepakatan untuk mengembangkan blueprint(cetak biru) yang tunggal dan koheren guna menjadi dasar pelaksanaan berbegai tindakan dalam bidang ekonomi. Pada KTT ASEAN ke-12, Januari 2007, Para pemimpin negara ASEAN sepakat untuk mempercepat pembentukan AEC pada 2015 dan mengubah ASEAN menjadi wilayah dengan pergerakan bebas terhadap barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal lain dengan lebih bebas lagi.
Konsep perdagangan bebas antar negara ASEAN tersebut selanjutnya dituntun oleh karakteristik perdagangan yang tercantum juga dalam cetak biru AEC 2015. AEC diharapkan memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) pasar tunggal dan berbasis produksi, (2) wilayah ekonomi yang kompetitif, (3) wilayah pembangunan ekonomi yang adil, dan (4) wilayah yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dari 4 karakteristik tersebut, dapat kita pahami dengan sedikit berkecil hati bahwa jika saat ini kita berlaku sebagai seorang pedagang, maka kita hendak mendapatkan berbagai saingan atau kompetitor yang datang dari 9 negara ASEAN lain. Akan tetapi, jika kita sekarang adalah konsumen “sejati” yang hobi untuk berbelanja, mungkin kita akan terpuaskan dengan banyaknya pilihan barang dan harga yang relative beragam atau justru malah seragam.
Nah itu dari sisi 1. Disisi yang kedua, perlu teman-teman tahu bahwa dengan adanya AEC 2015, pergerakan barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terlatih tentunya akan sangat bebas dan jauh dari kata “pajak pemerintah”. Sedikit informasi, pajak itu turut menyokong angka pendapatan nasional negara kita lho. Nah, lantas negara ini dapat pemasukan dari mana ya, kalau tidak ada barang yang kena pajak? Bisa-bisa angka pendapatan nasional Indonesia kita tercinta menurun kalau tidak ada barang kena Pajak.
Nah, sebenarnya, dibalik permasalahan yang diilustrasikan di atas, tindakan kecil dari teman-teman bisa sedikit demi sedikit membantu pergerakan Indonesia untuk bisa menghadapi tantangan AEC 2015 lho. Mau tau gak gimana caranya? Berikut ilustrasinya J




Dan uang teman-teman yang dibelanjakan untuk membeli produk dalam negeri itu, sebenarnya akan menggerakkan usaha kecil dan menengah yang ada di Indonesia sehingga perekonomian domestik yang ada di sekitar kita bisa tetap stabil.
Paragraf terakhir, tapi bukan berarti langkah terakhir saya dalam mensosialisasikan AEC 2015, saya ingin memberikan gambaran kepada teman-teman tentang potensi yang dimiliki negeri kita tercinta ini.
ü  Indonesia itu menyumbang 40% total penduduk ASEAN
ü Luas Indonesia itu terbesar keempat di dunia, dimana dibanding 9 negara ASEAN yang ada, Indonesia menjadi negara terbesar.
ü  Indonesia memiliki penduduk dengan usia produktif terbesar diantara 9 negara ASEAN lain
ü  Indonesia memiliki penduduk dengan kelas menengah terbesar di antara 9 negara lain
ü  Prospektif destination ke-4 dengan adanya 33 provinsi yang ada di Indonesia.
Jadi, marilah bersatu atas nama pemuda Indonesia dalam memanfaatkan setiap potensi yang dimiliki Indonesia. Marilah menjadi tuan rumah untuk AEC 2015 dimana hal ini berawal dari saya, Anda, teman-teman di sekitar Anda, keluarga, dan komunitas Anda untuk memulai dari langkah kecil yaitu “aware/sadar” dengan adanya tantangan AEC 2015 dimana kita harus meminimalisir budaya konsumerisme. Untuk teman-teman yang hendak berwirausaha, mari kita menumbuhkan perekonomian mikro dan pasar domestik yang dapat menggerakkan perekonomian rakyat. Syukur-syukur dan pasti BISA menjadi eksportir untuk 9 negara ASEAN yang lain. Amiin.
Mari membangun masyarakat ekonomi yang peduli dan menjadi generasi muda yang berkualitas dan berdaya saing dalam memajukan bangsa dengan mampu menghadapi berbagai tantangan global. INDONESIA BISA!!!



Jika memang terdapat hal-hal yang kiranya bermanfaat di dalam tulisan tersebut, silakan di share dengan teman terdekat ya :)
dan jika ada hal-hal yang kurang sependapat, saya sangat terbuka dalam menerima setiap kritik, tanggapan, saran, dan perbaikan untuk tulisan pertama tentang topik ini.
Silahkan sampaikan kritik, saran, komentar, dan pendapat anda terhadap tulisan ini.
Bisa juga melalui
Blog: Fatmawati Indah Purnamasari
fb: Fatmawati Indah Purnamasari
twitter: @fatmawatiindah
email: fatmawatiindah9@gmail.com
Telp/sms : 089624383539

Minggu, 07 Oktober 2012

Payung yang Telah Tergantikan



Betapa terlihat berkaitannya antara aku dan kamu. Kamu ada, maka aku pun ada. Tak tahu entah yang mana dulu yang tercipta, tetapi dunia memperlihatkan pada kita akan semua yang telah tercipta indah. Sejak dahulu kala, orang-orang di sekitar kita melihat kita berdua sebagai sepasang kekasih. Dua sejoli yang tak pernah letih untuk berdua setiap waktu. Tak peduli cuaca berganti, engkau dan aku akan selalu diingat oleh orang-orang disekitar kita. Memori mereka akan aktif ketika mendengar namamu dan namaku diucap secara bergantian.
Entah benar atau tidak, ketika engkau hanya datang sendirian, orang-orang pasti akan menanyakanku. Tak perlu engkau pungkiri itu, karena aku pun merasa demikian. Aku telah berusaha mencurahkan waktu dan tenagaku untuk sejenak melupakanmu, untuk sejenak memikirkan hal lain yang mungkin lebih indah. Tetapi apa daya, niat diri meninggalkanmu tapi hati tak mau beranjak sedikitpun darimu. Sesakit apapun itu, kisah antara aku dan engkau tetap selalu ada didalam setiap orang yang mengenal kita. Ini bukanlah sebuah pelampiasan kesal semata, akan tetapi jeritan luka karena rasa yang engkau biarkan begitu saja.
Ingatkah engkau? Ketika kita berjalan bersama di pagi hari atau di siang hari, atau di sore hari, atau kala itu di malam hari? Bertemunya kita tak pernah melihat waktu yang berlalu begitu saja. Bertemunya kita tak pernah mendengar berkata apa orang-orang disana. Bertemunya kita adalah suatu rezeki dari Allah SWT dimana bertemunya kita menyenangkan hati sebagian orang, dan mungkin mengecewakan hati yang lainnya. Tapi kita tak punya kuasa, kita hanya mengalir bersama dengan takdir yang telah digoreskan oleh Sang Pencipta.
Entah kenapa aku merasa jikalau kini aku sudah merasa renta. 4 bulan sudah kita tak dipertemukan untuk sekedar bertegur sapa. 4 bulan sudah kita melalui hari-hari ini dengan warna yang berbeda. Tiba kalanya kita dipertemukan pada suatu malam yang tak terkira. Engkau, aku, dan sedikit memori-memori masa lalu. Engkau mungkin lupa, dan malam itu engakau coba mengingat-ingat memori kita. Memori yang indah untukku, tapi mungkin hanya mengganggu bagimu. Sedikit indah pada dirimu seakan membasahi jiwa yang telah kekeringan sedari 4 bulan lalu.
2 minggu telah berlalu dari malam tempat kita bertemu. Engkau kembali menghilang dengan rasa cuek yang entah kenapa aku sangat menyukainya. Semua hal kecil yang ada padamu layaknya menjadi daya pikat tersendiri untuk selalu memikirkanmu. Berharap Tuhan membawamu dengan apa adanya dirimu kehadapanku. Harapan yang aku pinta dapat terwujud sebelum bergantinya musim ini. Sungguh aku tak ingin menyadari hilangnya hilangnya dirimu yang begitu cepat. Aku takut engkau meninggalkanku dengan petunjuk yang justru membuatku bingung. Aku pun takut jikalau engkau menganggap bahwa petunjuk itu akan membantu untuk menemukanmu. Tapi engkau tidak pernah menganggap bahwa dengan bimbingan serta berpegang pada tanganmu, aku akan lekas menemukan jalan menuju tempat di hatimu.
Kadang aku bertanya, kenapa semua harus begitu terlambat? Kenapa semuanya harus penuh dengan penyesalan dariku? Mungkin Tuhan hendak menunjukkan padamu atau mungkin padaku tentang indahnya arti kita berdua, akan tetapi kita terlalu menjaga gengsi untuk bertemu meski hanya dalam intensitas yang kecil. Mungkin aku belum bisa memahami bagaimana cara yang tepat untuk menunjukkan maksud hati, akan tetapi engkau sudah terlanjur berlari menuju sesuatu yang lebih menarik lagi. Jarak antara kita memang tidak terlalu jauh, tapi rasa yang menjembatani hati kita kini telah runtuh dan entah kapan bisa mendapatkan perbaikan dari sang Pencipta.
Tapi kini, aku hanya bisa menulis kisah indah antara kita dan semua yang ada. Selanjutnya, aku biaran Tuhan menghapus bagian yang biasa saja dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Bagaimanapun juga, aku hanya sebuah “payung” yang memiliki waktu untuk purna. Sedangkan engkau, “hujan” yang akan turun kapanpun engkau mendapat kesempatan untuk turun. Engkau bisa saja sibuk membasahi jiwa “payung-payung” lain yang berada dekat denganmu, tapi bagaimanapun juga aku tetap menunggu kedatanganmu di tempat yang engkau pun sudah tahu itu. Sampai saat ini, sudah berkali-kali aku mengirim pesan kepada “hujan”, tapi Tuhan berkata bahwa ini belum saatnya, dan aku harus menunggu untuk waktu yang belum tentu. 

Rabu, 15 Agustus 2012

Cukuplah Tuhan, Kamu, dan Aku yang Tahu


Hidup ini ibarat sebuah film,
Akan berganti dari sebuah adegan ke adegan yang lain,
Akan mengalami berbagai emosi dan situasi yang berbeda
Akan menjadikan kita pemain utama dan bukan pemain utama
Love changes a lot of things even the one that you think it could never change

Tak bosan-bosannya aku menonton drama serial Korea yang berjudul “Secret Garden”. Sebuah film yang menceritakan romansa percintaan dari dua orang yang memiliki latar belakang sosial yang berbeda. Si gadis yang bekerja sebagai seorang pemain pengganti atau stuntwoman mengalami berbagai tragedy yang cukup memilukan untuk akhirnya bisa bersanding dengan seorang Presiden Direktur dari sebuah perusahaan yang besar. Memang kisah romansa yang ditampilkan dalam film ini hampir sering muncul dalam film-film mancanegara yang lain, akan tetapi ada sudut dimana “pertukaran jiwa” yang mampu membawa makna tersendiri bagiku. Meskipun film tersebut nampak bukan kisah nyata dalam hal ending cerita, dimana dewasa ini status sosial merupakan gerbang yang jelas membedakan antar manusia. Akan tetapi, kita perlu melihat dari teropong yang berbeda untuk dapat memaknai “keindahan” yang berbeda pula. Dari film tersebut, aku mendapatkan berbagai gambaran yang hampir serupa dengan kisahku. Aku seakan menemukan keterikatan yang membuatku merasa tegar setelah menonton film tersebut.
Insight #1
Kita harus bersabar dalam menanti sebuah “kesempatan”. Dalam film tersebut, digambarkan bagaimana seorang pemain pengganti harus bersabar untuk menunggu saat-saat ia beraksi. Jika pemain pengganti tersebut tidak sabar dan merasa ia hanya dimanfaatkan karena hanya dijadikan bayangan yang selalu mengikuti kemana arah raga yang asli, maka kelak ia akan kehilangan kesempatannya dalam konteks “film” tersebut. Dalam kehidupan nyata, aku mengalami hal tersebut ketika menjalin sebuah pertemanan dengan orang lain. Terkadang aku merasa bahwa teman sejati hanyalah diri kita sendiri dimana ketika kita telah berhasil menyeimbangkan keterkaitan antara jiwa raga serta ketertarikan kita pada diri sendiri, maka kita akan sedikit terhindar dari rasa kesepian. Hal ini mengingatkanku pada perkataan seorang motivator bernama Merry Riana, dimana ia menyarankan agar kita selalu berbuat dan melakukan hal terbaik untuk orang-orang yang dekat dengan kita. Hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya kesempatan dimana mereka tidak akan selalu dekat dengan kita, sehingga kita harus berbuat yang terbaik sebelum akhirnya kita menyesal. Disini, hubungannya dengan film tersebut adalah bagaimana kita harus bersabar dalam menanti kesempatan yang ada serta kita juga harus memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.
Insight #2
Berusahalah memakai “kacamata” si dia untuk mengerti keadaannya. Dalam film tersebut, digambarkan bagaimana “takdir” menukar jiwa mereka. Hal ini dimaksudkan sebagai kesempatan yang muncul ketika kita diberikan kesempatan untuk dapat melihat “apa” yang sebenarnya ada dalam dirinya. Jika kita memiliki teman, sahabat, atau bahkan pacar, seringkali kita selalu ingin bersama dengan mereka. Kita selalu memiliki keinginan untuk melewatkan momen-momen yang indah dengan mereka. Akan tetapi, terkadang keinginan kita dimaknai menjadi sebuah sikap yang possessive dan sebuah keegoisan semata. Terlebih lagi ketika kita tidak mencoba untuk mengemas pesan yang ingin kita sampaikan dengan jelas dan dalam kondisi yang tepat. Kondisi lain terkadang kita menaruh rasa curiga pada si dia karena tidak memberi apresiasi atas apa yang telah kita lakukan. Anda tentu tidak ingin hal tersebut terjadi diantara Anda dan orang terdekat, sehingga mulai sekarang, cobalah untuk menjadi orang yang selalu berusaha melihat dan memposisikan diri sebagai si dia ketika Anda hendak mengatakan sesuatu yang bersifat judgement. Sebuah lagu yang mencerminkan kondisi ini adalah lagu dari Guy Sebastian yang berjudul “Angels Brought Me Here”. Dalam lagu itu, disampaikan sebuah makna dimana ada seseorang yang menyampaikan kisah perjalanan hidupnya sampai akhirnya ia menemukan keindahan pada sebuah keajaiban yang ada di depan matanya. Orang tersebut berandai-andai jikalau sebuah keajaiban tersebut mencoba melihat apa yang ia lihat, tentu mereka akan sama-sama tahu bahwa ada bantuan dari “takdir” yang akhirnya membantu mereka untuk dapat bertemu. Jika memang Anda merasa bahwa pertemuan tersebut karena kehendak Tuhan, maka Anda perlu mempertahankan dan berbuat yang terbaik untuk  orang-orang yang telah menghargai Anda. Jangan sampai mereka menyesal karena pernah dekat dengan Anda.
Insight #3
Berusahalah untuk “mengelola” emosi. Orang yang dianggap professional adalah orang yang mampu mengendalikan diri untuk tahu bagaimana cara mengekspresikan emosinya dengan tepat. Meskipun terkadang kita ingin meluapkan emosi yang ada agar merasa tenang, akan tetapi hal tersebut bisa saja menjadi bumerang bagi kita jikalau orang yang ada di dekat kita tidak menyukai hal tersebut. Meskipun terkadang perih untuk menyimpan luka, akan tetapi itu akan lebih baik jika memang ada hal-hal yang akan berdampak buruk jika kita bagikan dengan si dia. Cara lain yaitu cobalah dengan memulai pembicaraan yang nyaman untuk akhirnya melakukan konfirmasi terlebih dahulu akan apa yang terjadi. Jika kita langsung bernegatif thinking kepada si dia, alhasil dia mungkin saja akan jenuh dengan sikap tersebut dan lelah untuk kembali pada kondisi yang sama.

-to be continue. . . . . . . .-



Senin, 13 Agustus 2012

Tuhan dan “Kita” yang Tahu



Senja di waduk Gembong kala itu menemaniku melewati indahnya matahari terbenam bersama teman-temanku. Pemandangan gunung serta tenangnya air turut menambah kesejukan pada waktu itu. Yosi (Psiko UI 2012), Kak Fierdi (temen kos), dan Dika (Polines 2010), tiga orang teman yang bersama mereka aku melewati malam yang cukup berkesan. Sore itu, sekitar pukul empat sore (mundur dari jadwal semula pukul dua siang) mereka berkumpul dirumahku. Sedikit perbincangan dengan orang tuaku kemudian kami memutuskan untuk langsung menuju tempat buka bersama yang rencanyanya adalah kolam pemancingan (saran dari si Dika). Tak lama mengendarai motor, Dika bertanya untuk menentukan tujuan kepergian kami. Diskusi dengan dua orang teman yang lain pun sempat berlangsung selama kurang lebih lima menit dan berlokasi di pinggir jalan pantura. Yosi  merasa sangat antusias untuk melihat waduk dimana aku sempat menjadikannya background profil facebookku. Sementara itu, aku dan Dika lebih cenderung memilih kolam pemancingan karena memang rencana awal kami ingin “mancing”. Kak Fierdi, sebagai orang dituakan, agak bingung untuk memutuskan harus pergi kemana. Akan tetapi, tak lama kemudian aku dan Dika menuruti permintaan Yosi sebagai tanda meghargai tamu (Yosi dan Kak Fierdi).


Sesampainya di waduk, kami mendapati pinggiran waduk yang cukup ramai. Terdapat beberapa pemuda yang berfoto-foto dibawah menara air, sebagian lainnya hanya sekedar duduk-duduk di pinggir waduk sembari melihat panorama yang tersaji. Beberapa saat setelah kami memarkir motor, aku keluarkan kamera pocket dan menyerahkannya kepada Yosi. Waktu itu, entah mengapa aku tak langsung bersemangat untuk “take an action” padahal sebelumnya aku sempat merencanakan untuk foto-foto sepuasnya di tempat itu. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh topic pembicaraan yang sebelumnya aku bicarakan dengan Dika. Ada beberapa bagian yang cukup membuat aku “bad mood” dan akhirnya terdiam untuk beberapa waktu. Keceriaan di wajah Yosi dan Kak Fierdi lantas mengubah sedikit sudut pandangku. Aku lantas coba untuk menahan “kegalauan”ku sampai saat yag tepat untuk dapat mengekspresikannya.
Tatkala kami menuruni jalan setapak menuju tepian danau, kami hampir tidak menyadari bahwa matahari telah menampakkan bekas-bekas cahaya yang sinarnya semakin menghilang. Jarum jam juga telah menunjukkan pukul setengah enam sore. Dengan segera kami meninggalkan tempat itu dan menuju Simpang Lima Pati tempat dimana kami menghabiskan malam. Setelah setengah jam perjalanan, kami sampai di Simpang Lima Pati dan kemudian kami berkeliling untuk mencari makanan yang cocok untuk berbuka. Yosi dan Kak Fierdi yang notabene adalah “anak Jakarta”, sedikit menaruh heran kepada sebuah gerobak yang bertuliskan “Pempek” akan tetapi gerobak tersebut penuh berisi gorengan seperti risol, bakwan, dan lain-lain. Dika pun menjelaskan kepada mereka tentang “pempek Pati” yang memang seperti itu adanya. Gayanya menjelaskan nampak seperti seorang tour guide. Maklum saja, dia adalah mantan seorang Duta Wisata Kota Pati sewaktu ia duduk di bangku SMA. Cukup lama kami menyusuri jalanan Simpang Lima dan perut pun seakan tengah memasang alarm untuk segera Aku, Yosi, dan Dika memutuskan untuk mencoba pempek sementara kak Fierdi memesan Siomay yang terletak di sebelah tempat kami makan.
Tak menunggu beberapa lama setelah kami duduk, aku merasa ada sesuatu yang membuat hatiku kesal. Aku meminjam kunci motor Dika dan segera bergegas menancap gas dan menuangkan keluh kesahku dengan beberapa kali mengambil kesempatan ekstrim. Setelah kembali dari pencurahan keluh kesah, aku tampak sedikit asing dengan tatapan mata teman-temanku. Mereka tak habis pikir akan tingkahku yang mencurigakan. Mereka bahkan sampai mengamati gerak-gerikku dalam menghabiskan makanan yang telah aku pesan. Setelah makan, kami memutuskan untuk sholat maghrib di Masjid Agung Baitunnur Pati. Kak Fierdi dan Yosi melangkah terlebih dahulu menuju masjid, sedangkan Dika mengintrogasiku dengan berbagai pertanyaan. Temanku yang satu ini khawatir jika aku mendapatkan hal-hal yang tidak mengenakkan dari orang lain. Hal yang cukup membuatku kembali tersenyum yaitu ketika ketiga temanku ini mengatakan bahwa Fatma itu cerewet dan ketika dia tidak seperti itu lagi, mereka merasa asing dengan sikapku itu. Terlebih si Dika juga mengatakan bahwa Fatma yang ia kenal adalah orang yang suka mencubit, menjambak, menampar, dan lain-lain. Terlebih lagi sekasar apapun aku, mereka tetap menghargaiku sebagai seorang teman.

"Jadilah Fatma yang kami kenal"
Nice story with Muammar Dafi Mandika, Yosipana Khusnulhuda, Fierdianna Handayani


Translate