Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

Payung yang Telah Tergantikan



Betapa terlihat berkaitannya antara aku dan kamu. Kamu ada, maka aku pun ada. Tak tahu entah yang mana dulu yang tercipta, tetapi dunia memperlihatkan pada kita akan semua yang telah tercipta indah. Sejak dahulu kala, orang-orang di sekitar kita melihat kita berdua sebagai sepasang kekasih. Dua sejoli yang tak pernah letih untuk berdua setiap waktu. Tak peduli cuaca berganti, engkau dan aku akan selalu diingat oleh orang-orang disekitar kita. Memori mereka akan aktif ketika mendengar namamu dan namaku diucap secara bergantian.
Entah benar atau tidak, ketika engkau hanya datang sendirian, orang-orang pasti akan menanyakanku. Tak perlu engkau pungkiri itu, karena aku pun merasa demikian. Aku telah berusaha mencurahkan waktu dan tenagaku untuk sejenak melupakanmu, untuk sejenak memikirkan hal lain yang mungkin lebih indah. Tetapi apa daya, niat diri meninggalkanmu tapi hati tak mau beranjak sedikitpun darimu. Sesakit apapun itu, kisah antara aku dan engkau tetap selalu ada didalam setiap orang yang mengenal kita. Ini bukanlah sebuah pelampiasan kesal semata, akan tetapi jeritan luka karena rasa yang engkau biarkan begitu saja.
Ingatkah engkau? Ketika kita berjalan bersama di pagi hari atau di siang hari, atau di sore hari, atau kala itu di malam hari? Bertemunya kita tak pernah melihat waktu yang berlalu begitu saja. Bertemunya kita tak pernah mendengar berkata apa orang-orang disana. Bertemunya kita adalah suatu rezeki dari Allah SWT dimana bertemunya kita menyenangkan hati sebagian orang, dan mungkin mengecewakan hati yang lainnya. Tapi kita tak punya kuasa, kita hanya mengalir bersama dengan takdir yang telah digoreskan oleh Sang Pencipta.
Entah kenapa aku merasa jikalau kini aku sudah merasa renta. 4 bulan sudah kita tak dipertemukan untuk sekedar bertegur sapa. 4 bulan sudah kita melalui hari-hari ini dengan warna yang berbeda. Tiba kalanya kita dipertemukan pada suatu malam yang tak terkira. Engkau, aku, dan sedikit memori-memori masa lalu. Engkau mungkin lupa, dan malam itu engakau coba mengingat-ingat memori kita. Memori yang indah untukku, tapi mungkin hanya mengganggu bagimu. Sedikit indah pada dirimu seakan membasahi jiwa yang telah kekeringan sedari 4 bulan lalu.
2 minggu telah berlalu dari malam tempat kita bertemu. Engkau kembali menghilang dengan rasa cuek yang entah kenapa aku sangat menyukainya. Semua hal kecil yang ada padamu layaknya menjadi daya pikat tersendiri untuk selalu memikirkanmu. Berharap Tuhan membawamu dengan apa adanya dirimu kehadapanku. Harapan yang aku pinta dapat terwujud sebelum bergantinya musim ini. Sungguh aku tak ingin menyadari hilangnya hilangnya dirimu yang begitu cepat. Aku takut engkau meninggalkanku dengan petunjuk yang justru membuatku bingung. Aku pun takut jikalau engkau menganggap bahwa petunjuk itu akan membantu untuk menemukanmu. Tapi engkau tidak pernah menganggap bahwa dengan bimbingan serta berpegang pada tanganmu, aku akan lekas menemukan jalan menuju tempat di hatimu.
Kadang aku bertanya, kenapa semua harus begitu terlambat? Kenapa semuanya harus penuh dengan penyesalan dariku? Mungkin Tuhan hendak menunjukkan padamu atau mungkin padaku tentang indahnya arti kita berdua, akan tetapi kita terlalu menjaga gengsi untuk bertemu meski hanya dalam intensitas yang kecil. Mungkin aku belum bisa memahami bagaimana cara yang tepat untuk menunjukkan maksud hati, akan tetapi engkau sudah terlanjur berlari menuju sesuatu yang lebih menarik lagi. Jarak antara kita memang tidak terlalu jauh, tapi rasa yang menjembatani hati kita kini telah runtuh dan entah kapan bisa mendapatkan perbaikan dari sang Pencipta.
Tapi kini, aku hanya bisa menulis kisah indah antara kita dan semua yang ada. Selanjutnya, aku biaran Tuhan menghapus bagian yang biasa saja dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Bagaimanapun juga, aku hanya sebuah “payung” yang memiliki waktu untuk purna. Sedangkan engkau, “hujan” yang akan turun kapanpun engkau mendapat kesempatan untuk turun. Engkau bisa saja sibuk membasahi jiwa “payung-payung” lain yang berada dekat denganmu, tapi bagaimanapun juga aku tetap menunggu kedatanganmu di tempat yang engkau pun sudah tahu itu. Sampai saat ini, sudah berkali-kali aku mengirim pesan kepada “hujan”, tapi Tuhan berkata bahwa ini belum saatnya, dan aku harus menunggu untuk waktu yang belum tentu. 

Jumat, 04 Mei 2012

Rapat Akbar KOMPI UI menjelang Trip To UI: Cukup Aku, Kamu, dan Tuhan yang Tahu


Rasanya tak ingin berhenti terucap syukur atas karunia yang telah Allah limpahkan hari ini dan di hari-hari yang lain. Kembali teringat dengan coretanku yang berjudul “Merangkai Kata Menjadi Sebuah Keluarga”. Hari ini, 4 Mei 2012, saya dan teman-teman yang bernaung dalam suatu wadah kekeluargaan kembali menulis cerita indah dan seru tentang pemaknaan tentang pengalaman hidup. Kali ini, bukan berjualan gorengan atau baju bekas lagi, tetapi lebih ke perumusan konsep dan hal-hal terkait teknis acara yang hendak kami selenggarakan pada 5 Mei-18 Mei 2012, TRIP TO UI. Tak kurang pukul 15:30 saya sampai di kontrakan yang terletak di sebuah gang kecil di dekat Jalan Margonda Raya Depok. Disana, telah ada Bagas (Sistem Informasi UI 2011) yang tengah jenuh menanti di luar pagar.
Setengah jam sudah setelah akhirnya datang Septa (Manajemen UI 2011) yang selanjutnya disusul oleh Wahyu (Teknik Perkapalan UI 2011) dan Atik (Matematika UI 2011) yang berbarengan berangkat dari Asrama Mahasiswa UI Depok. Sudah lebih satu jam dari agenda yang dijadwalkan tetapi kami masih belum memulai rapat karena belum tercapainya batas quorum (quota forum). Menjelang pukul 5 sore, datanglah Eka (Biologi UI 2011), Mas Riko (Ilmu Komputer UI 2009), dan Mas Jauhar (Fisika UI 2008). Ba’da sholat Maghrib, datanglah Ficky (Teknik Mesin 2011) dan selanjutnya kami segera memulai obrolan alias rapat kami, tepatnya pukul 18.55, hampir 4 jam lewat dari agenda yang ditetapkan.
Membicarakan masalah rundown dan teknis acara, sempat beberapa kali kami terdistract dengan obrolan lain di dalam forum. Waktulah yang akhirnya memusatkan perhatian kami hingga akhirnya tepat pukul 19.30, fiksasi rundown dan draft pengajar terrealisasikan sudah. Beberapa saat sebelum beberapa teman meninggalkan kontrakan, datanglah mbak Jumiatun (Sastra Jerman UI 2008) yang hadir untuk menyapa kami. Si Mbak yang dapat berbicara dalam 4 bahasa (Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman) menyampaikan permohonan maaf karena beliau sibuk merancang tugas akhirnya. Alhamdulilah, sesibuk apapun beliau masih menyempatkan menengok salah seorang fans beratnya di KOMPI (hahahaha colek seseorang di kutek). Peace. .
Tak lama dari kedatangan Mba Jum, datang juga Mas Galih (ilmu Komputer UI 2009) dan Mas Panji (Teknik Mesin UI 2010) yang  mau bersusah-susah keliling Depok untuk membeli bantal “unyu” ^_^ buat peserta TRIP TO UI. Hampir pukul 9 malam, datang Jalal (Sejarah UI 2011) yang selanjutnya diikuti juru kunci  rapat kali ini yaitu Mas Harnoko (Matematika UI 2009) yang sempat muter-muter stasiun UI untuk mencari Gg. Mangga (akhirnya ketemu :)). Beruntung Mas Harnoko datang, beliau adalah tutor Matematika yang untuk kesempatan kali ini kami beri jam terbang yang tinggi, dan alhamdulilah beliau bisa. Pukul 21.30 hanya tersisa saya, Jalal, Mas Harnoko, dan Mas Panji dalam kontrakan tersebut. Obrolan tentang software matematika hingga konsep-konsep interpersonal seakan menjadi agenda rapat kedua kami. Tepat pukul 22.00 kami meninggalkan kontrakan dan mengakhiri rapat.
Insight yang saya dapat dari hari ini adalah, tentang pemaknaan kata “rapat”. Menurut saya, rapat adalah suatu forum formal yang didikte untuk membicarakan issue yang dijadikan agenda pembahasan. Tetapi di keluarga kecil ini, rapat yang kami lakukan memang tak selayaknya disebut rapat karena sungguh ide dan saran yang keluar dari diri kami adalah bukti kepedulian kami. Mulai dari kehadiran yang sebetulnya tanpa paksaan, pembicaraan yang boleh meluas dan menyempit, serta tempat keluh kesah yang gratis telah kami temukan disini. Bagi saya, yang disebut keluarga yang sempurna bukanlah orang yang memberi segala kebahagiaan. Keluarga yang sempurna menurut saya adalah keluarga yang dapat membimbing saya dalam merasakan masing-masing perasaan dalam piring “emosi” yang berbeda. Seperti permen, ia ibarat “nano-n*no” yang memberi berbagai rasa dalam satu sensasi saja.

Semalam Bersama Muhyi


Rasanya lelah sudah mata ini terbuka. Kira-kira lebih dari 16 jam aku belum sempat memejamkan mata seharian ini. Rutinitas kuliah yang padat dihari Kamis, dan beberapa aktivitas eventual lain cukup sering mewarnai hari sibukku di semester ini, hari Kamis. Pada kesempatan kali ini, Kamis, 3 Mei 2012, lebih tepatnya pukul 21:48, teman saya, sebut saja namanya Muhyi atau Fitra, datang untuk membicarakan suatu masalah terkait acara dalam paguyuban kami, KOMPI UI. Seperti biasa, muka kusut dan tak karuan seakan memelas untuk tahu update terbaru kegiatan yang tengah kami selenggarakan, “Trip To UI”.  Acara ini merupakan bakti kami terhadap kota Pati yang kami manifestasikan dalam mbimbingan belajar dan orientasi kampus kepada siswa/siswi SMA yang memiliki peringkat terbaik dalam try out yang kami selenggarakan. Acara ini akan berlangsung dari tanggal 5 Mei sampai 18 Mei 2012.
“Telpon Septa, Ma. Minta tolong Ficky antar kasurnya ke kontrakan sekarang” kata Muhyi.
Aku hanya menuruti saja perintah dari pak Ketua KOMPI. Hehehehe. .sejujurnya dalam hati aku sungkan untuk merepotkan anak-anak KOMPI malam-malam gitu. Seakan tak ada hari esok saja. Dalam pemikiran saya, secara sadar yakin bahwa nantinya saya yang akan turut bantu dia beres-beres kontrakan. Benar saja, dua kasur yang dipinjamkan oleh Ibu kosku berhasil pula kami angkat. Dengan terpaan angin yang lumayan kuat dan dengan dua kali bawa barang, kami sudah siap beres-beres kontrakan.
Pukul 12 tepat, hanya terdengar suara di warung nasi goreng yang sedari tadi membuat cacing diperutku berteriak-teriak. Semua sudah beres, sudah saya sapu dan pel setiap bagian dan sudut dalam rumah tersebut. Mungkin sekitar pukul setengah satu malam, Muhyi berpamitan untuk pergi membeli kertas kado guna menutup lubang yang ada didinding. Ya, maklumlah, kontrakan yang kami dapat itu layaknya pinang dibelah-belah alias rusak. Dinding yang penuh dengan coretan seakan membuat imaginasi saya terus menerka gambar apa itu. Pengalaman yang sama, ketika kami tengah rapat panitia, salah satu panitia, sebut saja namanya Tantri, merinding disko melihat coretan yang terlihat seperti seorang perempuan. .hahahaha kami benar-benar imaginative J.
“Aku takut kena fitnah, Ma” kata Muhyi ketika kami telah selesai membeli berbagai pernak-pernik untuk menghias dinding kontrakan. Mendengar kata-kata itu, saya hanya tertawa. Berpikir bahwa untuk apa orang memfitnah kami. Hal inilah yang sesungguhnya agak menggelitik pikiran saya. Ada beberapa orang yang dengan sengaja berduaan untuk tujuan tertentu, dan ada juga orang yang tidak sengaja berdua meskipun dengan alasan tertentu. Tapi berbeda dalam menanggapi isu munculnya fitnah. Sebenarnya, saya ingin menyebutnya sebagai gossip, tapi ya, tak apalah jika akrab disebut fitnah.
“Aku mau nulis ah, semalam bersama psikopat” kata Muhyi sembari menempel “wall-paper” di dapur. Takut dia bakal ngomong aneh-aneh tentang “gangguan” saya, saya mencoba untuk mencuri start dalam menulis dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Hahahaha. .hanya sekedar sharing. Saya sampai kos mungkin sekitar pukul setengah dua dini hari, dan malam Jum’at ini benar-benar malam yang melelahkan, setelah sebelumnya saya tidak tidur seharian karena dikejar deadline.
Baca tulisan selanjutnya. . . . . "Hidup Mati di Kejar Deadline"

Selasa, 24 April 2012

Tersenyum Melihatmu Tertawa




Mendungnya langit menyelimuti suasana hati yang perih. Asal muasal rasa hati siapa yang bisa menyangka. Sama halnya dengan kisah percintaan pada umumnya, ada derita dan ada bahagia. Jika diawali dengan derita, mungkin akan diakhiri dengan bahagia, atau sebaliknya. Hari ini aku telah menipu diriku sendiri. Memakai persona (topeng) bahagia meskipun dalam diri ini menangis meronta-ronta. Sejak aku temui seseorang yang sangat menarik hati, semua luka lama terkubur oleh masa. Dia memang bukan  malaikat yang diturunkan Tuhan ke bumi. Dia hanyalah seorang lelaki biasa yang memegang teguh prinsip yang ia punya. Dia adalah laki-laki yang keras kepala. Pekerja tangguh dengan berjuta pujian yang orang lain berikan. Dia adalah orang yang optimis, selalu memandang sesuatu dengan positif dan penuh antusias.  Pengalaman baru adalah makanan yang selalu ia lahap. Kata belajar pun tidak pernah hilang dari kamusnya.  Dengan berbagai kelebihan skill tersebut, ia mendapatkan anugerah wajah rupawan juga. Hal yang paling mengesankan dari dirinya adalah susahnya membuat dia mengerti akan suatu rasa. Mungkin hal ini dikarenakan sikap dia yang selalu memposisikan orang lain dengan kedudukan dan tempat yang sama. Jadi “there is no special thing”. Singkat kata mungkin seperti itu.
Memang bukan suatu hak saya untuk menuntut perhatian yang lebih dari dia. Tetapi saya ingat dengan kata-kata Mario Teguh, motivator ternama di Indonesia, menyebutkan bahwa sakit hati yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita sayangi, tidak mengetahui akan sayang kita pada dia.  Itu jauh lebih menyakitkan dari sekedar di tinggal pacar. Sebagai teman yang saat ini dekat dengan dia, terkadang saya ingin mencoba untuk mengetuk pintu hatinya agar dapat mengerti suatu rasa. Sejak beberapa bulan yang lalu, ada seorang gadis yang menaruh hati padanya. Dia sangat merasa bahwa separuh hatinya ada pada laki-laki ini. Setiap hari, si Gadis selalu bertanya dan memikirkan laki-laki ini. Memori si Gadis terkoneksi penuh dengan laki-laki ini. Dua puluh empat jam tidak pernah berhenti tersenyum dan tertawa ketika mengingat laki-laki ini. Kemanapun laki-laki ini pergi, si Gadis selalu mengikutinya seperti layaknya awan yang mengikuti perputaran bumi di siang hari.

My Friend and Her Story :)


Malam itu tak sama dengan malam – malam yang telah lalu. Malam itu begitu teringat jelas dalam ingatanku. Tanggal 26 oktober 2009, seingatku. Badanku lelah menyusuri sepanjang jalan kota kecil ini. Telah begitu lama kaki ini menapak meninggalkan jejak di sepanjang jalan yang telah ku lalui. Hanya demi mengejar seseorang yang kini memang aku tahu bahwa dia telah pergi. Semua hanya karena kebodohanku yang selalu tak mengira seberapa besar harapannya padaku. Namun aku malah selalu acuh tak peduli padanya. Dan kni saat dia telah pergi, aku tahu bahwa aku telah kehilangan orang yang paling berharga selama hidupku. Pikiranku melayang mengingat kejadian satu setengah tahun lalu kala aku bertemu dengan seorang laki – laki bernama Ahmad. Ku lihat dia tengah berdiri dengan wajah cemas seperti sedang menunggu seseorang di halte bus ini. Tak begitu lama aku memandangnya, aku tergugah untuk bertanya padanya. Apa yang hendak dilakukan seorang laki – laki bertubuh kekar di halte bus pagi – pagi begini? Selayaknya seorang siswa SMA yang bersekolah lumayan jauh dari rumah, aku memang selalu berangkat pagi betul dari rumah. Meskipun agak lama menunggu di halte bus, namun aku toh bias memanfaatkan waktu menunggu bus dengan menbaca – baca buku. Daripada aku berangkat kesiangan dan harus dihukum guru kala hendak mengikuti pelajaran.
“Maaf..Anda ini siapa ya? Kok saya tidak pernah melihat Anda di sini sebelumnya”. Tanyaku pada laki – laki yang sedang menggendong sebuah ransel besar di punggungnya itu.
“Oh..Saya sedang menunggu saudara saya yang tinggal di daerah sini, kebetulan saya ingin berlibur di daerah ini dan saudara saya yang hendak menjemput”. Jawabnya sopan. Aku kaget saat tahu kalau dia menjawab pertanyaanku tadi. Ternyata laki- laki itu sopan, meskipun badannya kekar dan Nampak seperti orang yang acuh tak acuh. Dari caranya berpakaian memang Nampak kalau dia seumuran denganku, tapi kalau melihat tubuhnya yang kekar dan tinggi besar, mungkn sebagian orang akan berpendapat bahwa dia adalah seorang remaja urakan yang suka mangkal di pasar.
Sorot matanya begitu memikat. menunjukkan salah satu keindahan ciptaan Tuhan. Apalagi senyumnya, begitu mempesona. Sungguh tak ku kira kalau ada malaikat yang turun di pagi buta begini.
“Saya Ahmad,,kalau kamu?”
“Aisyah” jawabku singkat karena aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku begitu menyukai tampilan luar laki – laki ini.
“Anak SMA ya?” tanyanya lagi. Aku tidak menyadari bahwa sedari tadi belum juga ku lepaskan jabat tangan deang laki –laki ini. Tanganku merasakan kehangatan dari genggaman tangannya. Lalu ku tarik tanganku pelan dan meminta maaf padanya.
“Huum,, baru kelas tiga ini. Kalau kamu?”
“Aku kuliah, semester 2, kuliah di Universitas Diponegoro jurusan Akuntansi. Kebetulan ni lagi libur, jadi ya pengen refresing di sini.”
Oh ternyata benar, dia memang seumuran denganku. Paling – paling selisih satu tahun. Dari caranya berpakaian memang tak Nampak kalau dia seorang anak kuliahan namun dari caranya berbicara yang ngalor – ngidul, menunjukkan seberapa luas pengetahuannya. Dan dari caranya berbicara pun selalu memkirkan baik buruknya. Sungguh penuh kehati – hatian. Sudah hampir seperempat jam aku bercakap dengannya. Bus menuju sekolahanku telah sampai. Dengan terpaksa aku harus meninggalkan si cowok ganteng dengan sejuta keindahan yang memikat hatiku.
“Aisyah….boleh minta nomor handpon kamu?”tanyanya sembari mengeluarkan handpon dari saku celananya.
“Iya..” ku sebutkan nomor handponku dan diikuti jari – jarinya memencet tombol pada keypad handpon.
“Terima kasih, nanti aku boleh telpon kamu kan?”tanyanya ketika aku hendak menaiki tangga bus mini yang akan mengantarku ke sekolah itu.
“iya… asal tidak ganggu jam sekolahku saja”aku melambaikan tanganku dan bus pun berjalan meninggalkan cowok yang telah memikat hatiku pagi ini. entah takdir akan mempertemukan kami lagi atau tidak, tapi aku harap, suatu saat aku bisa bertemu dengannya dan berbincang banyak lagi tentang hal – hal yang menarik perhatianku.


Keegoisanku dalam memaknai (ini)


              Aku seperti pohon yang layu di depan kamar kosku. Tak tahu harus seberapa lama  bercakap dengan bunga itu agar ia tak tertunduk bahkan layu. Ya, ,saat ini aku merasa seperti dia. Aku merasa benar-benar layu bahkan tak tahu bagaimana dan apa yang bisa membuatku kembali berdiri tegak.
                Aku layu karena aku tak tahu bagaimana cara menarik kembali masa lalu dan tak tahu pula  bagaimana menarik masa depan. Masa kini adalah hal sepi yang aku lalui. Serasa hanya ada aku dan pemikiran-pemikiran kerasku. Tak ada keluarga yang dulu mendukungku. Tak ada lagi teman yang selalu menyapaku. Yang tersisa hanya aku dan harapanku bahwa itu akan kembali. Kembali pada saat aku merasa dunia ini ceria sekali. Orang tua saja tak ada, apalagi kawan. Mereka berada pada rotasinya masing-masing. Mereka mengitari kesibukan mereka dan aku pun tak berada di rotasi itu. Aku hanya bagian dari angkasa luar yang turut menyaksikan hal itu. Ya sudahlah. Aku hanya akan menjadi angin yang membantu mereka kembali ke tepi. Atau aku dapat pula menjadi ombak yang membuat mereka tergerak.
              Tak tahu lagi kenapa semua menjadi titik di luar lingkaran besar yang tergambar. Akau hanya menjadi bagian terluar dari diri mereka. Aku merasa bahwa dunia ini laksana sebuah film dimana ada banyak karakter yang berada di dalamnya. Mungkin saat ini aku hanya akan menjadi stuntwoman yang hanya akan dibutuhkan pada waktu yang tak tentu. Sungguh suatu hal yang aku anggap suatu keegoisan.
        Aku bahkan tahu apa yang mereka pikirkan. Mereka ingin optimal dalam tugas mereka. Dan memang siapapun di dunia ini akan selalu mencari orang lain jika memang dia membutuhkan. Aku juga sadar bahwa aku berada dalam egoism ku sendiri ketika aku menganggap mereka adalah orang yang egois. Aku terlalu banyak mengkritik dan berharap pada orang lain sehingga aku menjadi orang yang egois dengan menganggap orang lain egois.
        Ketika aku merasa bahwa tidak ada orang yang peduli, justru menunjukkan akan ketidakpedulianku pada orang-orang yang peduli.
 


Senin, 23 April 2012

Desa Mandiri BEM UI



Kami memulai berdoa jauh-jauh hari sebelum hari ini menyapa. Tak hanya doa yang menjadi pelengkap rangkaian langkah kami, ada pula percik-percik harap yang turut membumbui setiap warna yang kami lukiskan. Rumusan konsep hingga mekanisme teknis telah kami coba rumuskan secara operasional agar dapat teramati dengan jelas. Dari kumpul bareng hingga sms-an bareng telah menjadi ritual kami sehari-hari. Handphone serta kotak masuknya telah menjadi saksi betapa kami berjuang untuk kelanjutan program ini.
|Handphone jadi saksi|
Desa Mandiri Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia 2012 atau disingkat DesMan BEM UI 2012 adalah suatu program kerja yang bernaung di bawah Departemen Sosial Kemasyarakatan (SOSMAS) BEM UI. Program ini mewadahi mahasiswa yang haus akan kontribusi untuk dapat menyalurkan kompetensi serta mendapatkan kucuran pengetahuan dari masyarakat secara langsung. Mencicip kenikmatan “kebersamaan” yang tertuang sebagai pemberdayaan masyarakat berbasis community development. Jika anda adalah generasi muda yang ingin berkontribusi kepada suatu komunitas, mungkin dapat turut mencicip “kontribusi” bersama kami.
|. . .dapat berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat|
Terkadang pernah terlintas dalam benak saya, “untuk apa mensejahterakan orang lain sementara saya saja belum sejahtera”. Saya merasa perkataan tersebut adalah kesalahan terburuk yang sering saya lakukan selama ini. Saya mungkin saja dirajai oleh “egoism” yang sebenarnya tak membawa saya kemana-mana. Persepsi bahwa saya kurang beruntung itulah yang terkadang menghambat saya untuk turut serta dalam kegiatan sosial. Pemikiran munafik tersebut lenyap tersapu oleh keingintahuan saya serta keinginan saya untuk dapat berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat.  Saya ingin menjadi kursi roda yang dapat berjalan meskipun dengan kecepatan rendah. Sungguh saya tidak lagi ingin menjadi “kursi goyang” yang menenangkan namun tak bergerak kemana-mana. Suatu kebahagiaan jika saya dan teman-teman yang lain dapat berbagi perasaan yang sama tentang arti sebuah kata “kebermanfaatan”.
|FPT jalan menuju kontribusi secara penuh|
Kami berada di bawah sebuah payung yang diam-diam meneduhkan. Sebut saja Udin atau Nafian (Teknik Bioproses 10) yang mendapat pujian hangat dari Abang atau Ananda (Psiko UI 10). Beliau adalah CaPO DesMan 2012 dimana bersama dalam satu tim, kami mengikuti Fit and Proper Test (FPT) sebagai pembekalan awal serta tes kompetensi dalam memahami konsep serta teknis terkait Desa Mandiri. Beliau benar-benar selalu memenuhi kotak masuk kami dengan kata-kata “unyu” nya. Beliau menjadi seorang “leader” namun tetap mau menjadi “anggota” yang turut berperan aktif dalam setiap pertanyaan dan isu-isu yang sering diungkit di dalam tim. Sukses selalu Pak CaPo.
|Inilah kami yang tampil dalam sebuah FPT di Lt 2 Pusgiwa UI|











Big thanks to: Ara, Kurona, Kak Niko, Kak Odi, anak2 PSDM & SPI BEM

Minggu, 22 April 2012

Masih Mencoba Ikhlas


Minggu, 22 April 2012
Malam ini sekedar menjadi tamparan untuk diriku sendiri. Menemukan sebuah insight dalam suatu keadaan emosi yang labil memang bukan hal yang mudah bagi saya. Terlepas dari ketidakmampuan saya menyimpan kekecewaan yang begitu bodoh. Sebuah cuplikan ayat yang benar-benar mengetuk hati saya malam ini adalah
|“. . . . Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui” Q. S. Al-Ma’idah(5) ayat 54.|
Teringat kejadian 1 minggu yang lalu, ketika saya hendak membalas kebaikan seorang teman saya dengan sebuah hal kecil yang saya usahakan dengan sepenuh hati. Saya memang hanya membuat sebuah kue brownies dengan member tambahan coklat serta keju di atas kuwe tersebut.  Sedikit taburan warna-warni permen menyusun sebuah kata yang menunjukkan namanya. Tak ada maksud apa-apa ketika aku membuat semua itu. Dari niat untuk membuat hingga jadi sebuah kue selalu aku awali dengan “Lillahi Ta’ala”.  Setiap detail yang ada di kue tersebut saya susun dengan harapan sesuai dengan yang dia suka dan tidak terbuang sia-sia. Sebuah mug kecil bergambarkan foto bersama teman-teman menghiasi mug menemani kue tersebut. Tambahan sebuah kado kecil adalah buku yang “Subhanallah” mengetuk hati. Buku tentang bagaimana menjadi seorang manusia sepenuhnya dengan cara-cara menghargai orang lain. Sungguh manis menurut saya.
|Ketika niat itu dilihat sebelah mata oleh orang lain|
Setelah 11 hari berlalu, saya masih belum menemukan logika yang tepat untuk menjawab kekecewaan saya tadi. Dalam kekecewaan yang saya bangun sendiri, saya merasa menjadi orang bodoh yang mengijinkan dendam melumpuhkan logika saya. Gejolak antara pelimpahan kesalahan semakin menjadi dengan adanya suara-suara hati yang ingin menemani. Ingin sekali aku bercerita atau sekedar menulis apa yang sedang saya rasakan, tetapi rasa sakit dan perih masih saja mengganjal di dalam hati saya. Berharap hanya Tuhan yang mendengar jeritan serta tangisan saya.
|Jujur, saya menunggu permintaan maafmu, tapi ternyata itu bukan kesalahanmu|
Rasanya saya ingin mengulur waktu sampai saya siap untuk menerima tamparan yang lain lagi. Betapa egoisnya saya, terkadang berfikir dan mengharap dia meminta maaf kepada saya. Dibalik kebimbangan logika yang menyebabkan saya bertindak emosional adalah anggapan bahwa dia “sengaja” melakukan itu untuk menyampaikan pesan yang mungkin sampai sekarang saya tidak mau memikirkan itu. Saya terus berfikir dan selalu meyakinkan diri saya sendiri bahwa ini semua bukan kesalahan dia karena dia pun tak mengharap saya melakukan apapun untuknya. Tetapi kenapa niat saya untuk menghargai dia terluka oleh sikap cuek dan acuh yang dia berikan.
|Tuhan memberi banyak kebaikan pada hamba-Nya|
Tuhan telah memberikan banyak sekali kebaikan pada hamba-hamba-Nya. Bahkan mungkin ia tak berharap kata “maaf” keluar dari mulut hamba-Nya yang tega membuang pemberian-Nya. Tuhan yang Maha Melihat bahkan menyaksikan bagaimana pemberian-Nya di buang dan bahkan dicerca. Logika ini yang aku dapatkan mala mini. Aku yang hanya mencoba memberi suatu kebaikan, dengan usaha yang mungkin juga terbatas, sudah pantang menyerah dan kecewa hanya karena dia punya kegiatan lain yang mugnkin tak bisa ditunda.
|Ketika tangisan hati lebih pedih dari sekedar tetes air mata|
Saya sadar bahwa saya sedang menangis, tapi bukan tangisan air mata yang menemani saya memikirkan semua ini. Pemikiran yang kalang kabut serta hati yang terus-terusan menjerit tanpa ada tempat untuk katarsis membuat saya semakin merasa lemah dengan kondisi yang saya buat sendiri. Saya “kecewa” karena dia sama sekali tak menghargai teman saya bahkan hanya dengan membalas sms saja, dia tak mau. Entah apa yang ada dalam pikirannya, saya mencoba untuk menerka semua itu. Mencoba ikhlas melupakan “kekecewaan” karena sebuah ucapan yang tak dipegang teguh oleh si “pengucap” itu sendiri.
|Saya berada di pertengahan jalan untuk membenci dan memaafkannya|
Saya tersadar bahwa ketika saya masih menunggu permintaan maafnya, maka hal itu akan menjadi hal terbodoh dalam hidup saya. Memaafkan sebelum orang lain meminta maaf ternyata lebih indah dari sekedar menunjukkan kesalahan orang lain sehingga dia meminta maaf. Subhanallah. Semoga jalan Allah terbuka bagi orang-orang yang mau memaafkan. 

Merangkai Kata Menjadi Sebuah Keluarga


Bertambah satu lagi kekagumanku pada makna dari kata “keluarga”. Ternyata, keluarga bukan suatu hal yang telah ada pada diri kita. Dibutuhkan usaha untuk mengerti arti kata sebuah “keluarga”. Pemahaman kita terhadap “keluarga” bukanlah suatu bentukan realitas semata, tetapi hasil persepsi kita terhadap makna kata tersebut. Bisa saja kita berada dalam suatu ruang lingkung yang menyebut diri mereka “keluarga” tetapi di dalamnya terdapat aturan-aturan serta struktur yang ketat dan mengikat. Hari ini, Minggu, 22 April 2012, aku memaknai keluarga dengan sangat sederhana sekali.
|Keluarga bukanlah suatu keterikatan aturan tetapi kebebasan mencurahkan semua kondisi namun tetap dalam segi etis.|
Komunitas Mahasiswa Pati Universitas Indonesia memang bukanlah suatu keluarga inti yang terbentuk karena ada keterikatan darah, tetapi dibentuk oleh kehausan kami akan wadah manifestasi kekaguman kami pada tanah kelahiran kami. Di KOMPI UI, sebutan khas yang kami gaungkan, kami dapat bertukar pikiran, bercerita, menyusun misi serta sekedar bercanda dengan keluarga yang akan sangat hangat. Kehangatan kami ini mungkin saja hanya akan ada ketika kami berkumpul, karena kami pun disibukkan dengan kegiatan primer kami dalam kuliah. Tetapi dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya tahu betul bahwa saya menciptakan kehangatan “keluarga” dalam setiap memori yang saya rangkai dengan setiap kognisi yang telah ada sebelumnya.
|Rangkaian memori ku membentuk makna dari “keluarga” secara lebih jelas lagi|
Pagi ini, tepatnya pukul 5.00 aku terbangun oleh suara alarm. Meskipun baru tidur pukul 2 dini hari, tetapi demi mencari sedikit uang atas nama KOMPI UI, saya, Mba Rizma (Sastra Indonesia UI 09), Wahyu (Fisika UI 10) telah siap pada pukul 6 pagi. Tepat pukul 6.15 kami telah menggelar lapak di pinggir jalan Juanda, Depok. 2 buah jas hujan dan sebuah x-banner bekas milik Mba April (Teknik Lingkungan UI 09), telah siap untuk ditimpa baju bekas yang berhasil aku kumpulkan semalam dari anak-anak KOMPI UI. Kami menata baju bekas yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak, namun cukup untuk latihan awal kami. Dengan senyum ceria serta muka “melas” kami menawarkan baju-baju tersebut serta beberapa gorengan yang sempat kami beli di Detos. Selesai merapikan baju-baju, Mba Rizma dan Wahyu berjalan menjajakan gorengan dan air mineral sedangkan saya menjaga baju-baju tadi. Alhamdulilah setelah 30 menit menggelar lapak, terjual 4 baju seharga 5 ribu rupiah untuk masing-masing kaos. Pulang dengan tangan hampa, saya kemudian mengajak Mba Rizma untuk menjual gorengan di Balairung dan Rotunda UI.
|Manis di awal dan akhir, sepah ditengah|
Gorengan yang kami bawa dengan sepenuh tenaga hanya laku di awal dan akhir dari penjualan kami seteleh hampir 1 jam berkeliling Rektorat. Dari pada kami hanya diberi harapan palsu oleh orang-orang yang bilang “nanti aja Mbak J”, kami berdua memutuskan untuk razia kekosan anak-anak KOMPI UI di kukusan teknik. Saya meminta Mba Rizma untuk memilih siapa target pertama razia kali ini. Mba Rizma dengan antusias mengatakan “Mas Jo”. Kami melaju di atas dua roda dengan kecepatan standar. Beberapa menit kemudian tampak “sesepuh” KOMPI dengan muka curiga menatap kami. Alhamdulilah 13 ribu rupiah keluar dari dompet Mas Jauhar (Fisika UI 08) ketika ia membeli beberapa kue untuk saudara seperjuangan di KOMPI UI yaitu Mas Riko (Ilmu computer UI 09) dan Mas Harnoko (Matematika UI 09). Mas Dana (Kimia UI 09) masih tak beranjak dari peraduannya ketika kami disana. Target kedua yaitu Septa (Manajemen UI 11) yang mengeluarkan 10 ribu untuk beberapa gorengan kami.
|Semua bukan karena uang dan makanan, tetapi kebersamaan|
Pukul 10 tepat kami tahu bahwa uang hari ini ada 66 ribu rupiah dari hasil jualan baju dan gorengan. Rasanya aku pengen meluapkan kesenanganku dengan teriak-teriak “I Love U KOMPI” tetapi aku takut Mba Rizma dan Wahyu akan malu karena itu. Perjuangan kami terbalaskan dengan pencurahan rasa cinta serta pengorbanan kami agar KOMPI UI tetap eksis. Kami tak mau KOMPI hanya menjadi bagian dari kenangan masa lalu yang akan tersapu oleh reformasi organisasi yang semakin menjamur. Keluarga bagiku adalah suatu wadah untuk saling “memberi” tanpa berharap mendapatkan “kembalian” dari yang kita berikan.
|Keluarga akan muncul menjadi “puzzle” yang bisa kamu rangkai dalam jalan hidupmu |
Thanks to: Mba Jumiatun (Sastra Jerman UI 08), Mba Titik (Administrasi Negara UI 08), Mas Bhisma (Teknik Sipil UI 09), Septa (Manajemen UI 11) dan Mba April (Teknik Lingkungan UI 09) yang telah memberikan baju layak pakainya untuk KOMPI UI. InsyaAllah pemberianmu akan menjadi saksi kontribusimu pada “KOMPI UI”
Big Thanks to: Mbak Rizma (Sastra Indonesia UI 09) dan Wahyu (Fisika UI 10) yang rela terpapar sinar matahari berjam-jam serta menahan rasa lelah.
|Mereka adalah orang tangguh yang terus berlari hingga “kelelahan” lelah mengikuti mereka.|

Translate