Rabu, 22 Oktober 2014

kata yang terkadang tak sempat terucap

100 menit setiap pagi ternyata masih saja membuat diri kita merana. 100 menit ternyata masih belum cukup untuk menggoda manja mentari pagi yang sedang berusaha mendekat kemari. Kita mulai berseri-seri, tatkala obrolan kita bak angin dan air yang datang kesana kemari dengan berlari. Mulai dari bertanya tentang apa kabar Ibuk hingga gosip apa yang sedang beredar di rumah. Tidak ada kata romantis! setiap hari kita hanya bersaing untuk menjadi orang paling nyebelin yang bisa bikin meringis. Tapi itulah cara kita menjadi orang sangat romantis. :")

Bagaimana bisa 2 hari libur kita tidak pernah benar-benar bisa menghapus haus kita akan jumpa?
Dan tatkala 5 hari kerja kita hanya jadi hari yang hampa tanpa suara kita yang bercengkerama
Allah memberi cinta melalui kata yang terkadang tak sempat terucap
hanya mampu menahan senyum dan menikmati setiap berkah dari Dzat Terhebat.

Bismillahirrahmanirrahim :")





Gambar boneka disebelah kiri ini selalu bikin tersenyum tersipu. ._.
Saat masing-masing dari kita usil dengan cara yang gila

Sabtu, 18 Oktober 2014

Alasan Mengapa Aku Mencintaimu


Terkadang mereka bertanya,
kenapa dia? yakinkah kamu?

aku hanya terdiam perlahan,
menarik nafas panjang dan tenang.

lidahku kaku tak mampu berucap,
bukan karena aku tak tahu,
tapi karena aku takut mereka terpaku,
atau mungkin akan iri padaku.

bukan pula karena aku tak mencintaimu,
lantas aku hanya diam tersipu.

tapi bagaimana bisa sedikitpun mereka tak tahu,
perubahan senyum penuh makna tersirat dipipiku.

aku lebih suka jemariku yang menari,
bergerak lincah diatas keyboard laptop yang mulai rapuh.
Sedikitpun tak ku izinkan mulutku berteriak,
takut berlebihan atau kekurangan dalam menceritakan.

Aku mencintaimu sebagaimana kamu mencintaiku,
Aku pun menyayangimu sebagaimana kamu menyayangiku,
dan aku juga mengasihimu sebagaimana kamu mengasihiku.

Semuanya mungkin tampak timbal balik semata,
tapi tak benar sama dengan apa yang kita rasa.

Allah membawamu pada kedua orang tuaku,
mempertemukan kalian dalam suka cita yang membuatku bahagia.

sama pula dengan saat pertama Allah membawamu padaku,
mempertemukan kita dalam ruang kerja yang tak terduga.

Kita hanya terdiam mengagumi tanpa berani mencicipi,
dapat tertawa lepas tanpa takut ikatan kita terlepas.

Lantas bagaimana bisa aku tak mencintaimu?
Jika bersamamu Allah senantiasa melukis tawa,
saat bertemu denganmu, dunia terasa amat sementara,
dan melihatmu bak melihat jalan menuju bahagia.

yang jelas,
Allah meyakinkanku untuk menjadi makmummu,
Allah mempermudah setiap langkah menuju cintamu,
Allah membukakan restu dari Bapak-Ibu dan Ayah-Umimu
Allah menentramkan jiwa melalui tawamu,
dan Allah yang mengatur bagaimana kelanjutannya.

percayakah mereka bahwa Allah Maha Berkehendak?
Bagaimana jika Allah Berkehendak untuk menyatukan kita?
haruskah terus dipertanyakan lagi?
sementara kadang mereka lupa bahwa atas Kehendak-Nya mereka

bisa berjumpa, sebagai kawan atau lawan,
tapi tak pernah mereka bertanya kenapa harus aku, kamu atau mereka

Kita sebagai hamba hanya menjalani apa yang digariskan-Nya
berlomba menjadi pribadi yang melakukan perintahnya,
serta menjauhi setiap larangannya.

Dan yang jelas, bersama kita berusaha meraih ridho Allah ta'ala.






Rabu, 15 Oktober 2014

Di Pojok Kelas Saat Mata Kuliah yang Tak Jelas



Sinar mentari minggu pagi itu,
menerpa lembut wajah lelah kita.

Tawa kita memecah sunyinya dunia,
membuat mentari pun tergoda mengintip kita.

Di balik gubuk reot warung teh hangat,
di bawah langit ciptaan Dzat terhebat,
bersama kita jalani kisah yang telah tercatat.

Aku menyukainya,
tatkala dua bola mata kita berjumpa,
berkali aku menunggu itu,
tatkala engkau tertawa karena bisa buatku diam tersipu malu.

Aku mencintaimu,
tapi tak sebesar cinta Allah padamu,
Aku mengasihimu,
pun tak lebih besar dari kasih Ayah-Umi kepadamu.

Tapi aku menyayangimu,
setelah Bapak-Ibuk dan adik-adikku.

Depok, 14/10/14
Dipojok kelas saat mata kuliah yang tak jelas

Jumat, 10 Oktober 2014

Terima Kasih



teruntuk Allah,
yang menjadikannya ada,
yang meniupkan cinta,
yang membuatnya terasa mudah,
dan yang merestui.

kepada Allah,
ku persembahkan ruku'
ku haturkan sujud
berharap selalu bisa menjadi khusyu'

dari Allah,
muncul harap,
muncul cemas,
muncul ikhtiar,
dan kepada-Nya kembali kita bertawakal

selalu ada usaha untuk menyempurnakan cinta,
begitu pula Allah yang mempertemukan kita,
agar senantiasa bersama mengingat-Nya

Kita lupa,
entah di suatu sudut Cikini,
atau sudut kecil kota Bekasi,
atau macetnya Margonda Depok ini,
menuntun kita sampai di sini,

Bapak-Ibu serta Ayah-Umi
atau bahkan kumpulan doa-doa yang terbang ke langit,
yang akan menggiringi langkah kita
dan menjadikannya semakin tertata

Allah senantiasa ada,
membawamu dalam setiap hariku,
serta membawaku dalam setiap harimu,

Terima kasih untuk Allah,
Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


Dibalik tirai biru dalam sebuah ruang rindu,
Depok, 10-10-2014







Rabu, 24 September 2014

Backsong of the Day!

Wanna Let It Go!

Entah suatu kebetulan atau pikiran yang mengendalikan,
Hari ini saat semua ketakutan menjadi cambuk tersendiri!
Saat entah terjadi atau musik yang menginpirasi #halah


Told to be the good girl and never let them know what I feel
But can't hold it anymore,
the fears that never been controlled me now can get to me at all
When you say to me not to cry,
Now please let me cry, dancing and singing loud

If you wanna take them all, please give me one more night to let it go sincerely. :)

Kado Ulang Tahun: Shio Monyet :P







Selasa, 23 September 2014

semangkuk mie ayam

aku masih tetap saja begini Pak, Bu,
masih tetap anakmu yang manja dan pemalas
yang selalu merengek minta digendong Bapak,
dan baru mau makan kalau disuapin Ibu.
Seorang kakak dari 2 adik yang selalu merasa bungsu!

Di dalam semangkuk mie ayam,
yang berisi kuah pengorbanan,
dan bumbu perjuangan orang tua untuk anaknya,
Tiba-tiba terasa aroma mie ayam,
yang sering ku makan dari suapan bapak-ibu,
Mungkin lezatnya ada pada senyuman itu,
yang merekah indah saat engkau melihatku
Kini saat ku makan mie ayam,
rasanya ada sesuatu yang mengetuk ruang rindu,
Aku ingin memeluk kalian :")

Senin, 22 September 2014

Di Pojok Ruang Rindu


Aku masih terharu,
Terpukau kaku menatap langit biru sore itu,
Dia tersenyum,
sementara aku leleh dalam tangisan haru

Belai tangan-Nya begitu sering menyentuhku,
Pelukan-Nya pun terasa hangat menaungiku
Dia memberi tanpa pernah berharap kembali
Jika kasih ibu terasa sepanjang masa,
maka kasih-Nya kekal dunia akhirat tanpa berbatas.

Aku hanya salah satu hamba-Nya,
tapi diperlakukan-Nya aku bak kekasih seutuhnya
dialirkan-Nya sungai kebahagiaan pada tiap langkahku.

Bisikan cinta-Nya begitu dalam menyentuh hati,
Laksana kumandang adzan yang ku dengar sambil memejam.
Dia begitu berarti,
alasan mengapa aku hidup dan mati.

Malam itu Dia utus bulan,
supaya jadi penerang dan teman bersemayam,
Tadi malam pun Dia tampakkan bintang,
agar mampu menghapus luka di pojok ruang rindu,
dan pagi ini Dia kirimkan mentari,
yang membuat hidupku terasa begitu berarti.

Ya Rabb, Penguasa alam semesta,
izinkan aku berterima kasih kepada malaikat,
yang menyampaikan setiap pesan-Mu kepadaku,
izinkan pula aku berterima kasih kepada Rasul-Mu,
yang memberikan pengetahuan nikmat Iman dan Islam,
pun aku berharap Engkau masih mengizinkan aku,
untuk berterima kasih pada orang-orang yang membawa cinta,
aku tahu ini semua titipan dari-Mu untukku,
Ridhoilah aku agar senantiasa mencintai-Mu,
tetapkanlah hatiku pada calon imam yang nantinya membawaku lurus ke jalan-Mu
dan rahmatilah kami dalam kehidupan dunia dan akhirat

Sabtu, 20 September 2014

Duka...

Mata terpejam, melarutkan setiap duka dalam pikiran yang tertimbun dalam.
Aku masih memejam, berharap setiap luka tak terbuka terlalu lama.
Diriku telah jatuh, dalam harapan yang tak sedikitpun ku beri batas.
"Berharap kalian mengerti aku, memahami sejenak isi pikiran dan perasaanku".
Ku harap sedih tak berujung ini pun dapat kalian mengerti.

Andai aku bisa, ingin ku tulis semua suka dan duka,
dalam surat-surat yang ku terbangkan ke langit atau ke laut lepas.
Tapi ku pilih untuk menyimpannya, dalam diam dan heningnya suasana.
Bukankah kalian tahu makna dari suatu rahasia, yang seharusnya tak perlu dijadikan lelucon dan jimat untuk membuat diriku mengalah?

Aku memilih bercerita pada kawan, sekedar membuka obrolan atau meluruh lara dalam sungai ketentraman yang ada.
Tapi mengapa, justru lara itu bergerak kembali ke arahku.
Memburuku dengan kecewa dan duka.
Tak mampukah engkau mengerti aku, dan segenap  pengharapanku.
Ataukah kini aku menerbangkan bumerang, yang justru dilempar.kembali dan kini menghantamku.


Pohon Harapku


Telah gugur dedaunan pohonku,
Terhempas angin terjatuh rendah ke dasar tanah

Sempat ku bertanya lirih padamu,
Akankah benar mampu kau simpan surat cinta itu,
Kau berbisik, ”Aku senang jika kau titipkan itu padaku”
Bukankah itu janjimu?
Atau hanya sekedar menyakinkanku?

Benarkah aku hanya pilihan?
Sementara dulu susah payah kau tanam
Dulu aku pun tahu,
Ada pohon lain yang lebih kuat daripada aku
Tapi aku bertahan untuk menaungimu

Kini tak apa jika kau tumbangkan pula batang pohonku,
Tak perlu pula kau siram air sampai menyentuh akarku
Gugurnya daun, tumbangnya batang, serta keringnya akar,
Sudah cukup mematikan harapan


Bersama panasnya udara Depok,
20 September 2014

Translate